web analytics

Tradisi Lempar Buah Penuh Berkah, Peringatan Maulidur Rasul serta Haul Nyai Hj. Siti Qomariyah

0 0
Read Time:1 Minute, 40 Second

Kediri, Elmahrusy Media.

Selasa (01/09), suasana selasa malam begitu khusyu’ nan khidmat. Lantunan manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani serta Maulidud Diba’i bergaung ke segala sisi sudut Aula Al-Fattah yang dipenuhi dengan indahnya karangan buah dan bunga. PP. Daru Rasyidah dan Daru Zainab bergabung dalam melaksanakan acara ini. Acara ini merupakan salah satu gambaran perwujudan mahabbah kita pada Sang Baginda serta sarana untuk mengenang perjalanan hidup Nyai Hj. Siti Qomariyah.

Diawali dengan pembacaan istighotsah hingga diakhiri lempar buah, Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyyah mendampingi  para santri ditemani oleh Bu Nyai Abidah, kakak ipar beliau, dan ketiga putra-putrinya, yakni Ning Afnan Miskiyyah, Ning Maheera Maziyah Miskiyyah, dan Agus Hirzi Imam Mahrus.

Suasana berubah menjadi begitu meriah setelah mahallul qiyam selesai, yakni tiba di puncak acara lempar buah. Buah didalamnya meliputi anggur, jeruk, pir, dan mangga yang memiliki makna filosofis dibaliknya. Buah-buahan tersebut telah `diberkahi` karena berada di dalam majelis yang dibacakan beribu shalawat dan do`a selama pembacaan manaqib dan maulid. Selain itu, juga terdapat banyak sekali jajanan yang digantungkan pada tiang tiang aula, tak lupa dengan telur-telur hias.

Antusiasme santri begitu dahsyat beriringan dengan gelak tawa kebahagiaan yang terpancar dari wajah para santri serta semaraknya shalawat  sehingga ribuan buah yang dilayangkan di udara dan jajanan yang disediakan langsung habis seketika. Mereka saling beradu ketangkasan dalam berebut berkah. Bukan tentang seberapa banyak buah yang tertangkap, melainkan tentang luapan kebahagiaan atas kelahiran Sang Cahaya. Gema kehebohan santri meningkat ketika Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyyah tiba-tiba  mengeluarkan lembaran-lembaran uang rupiah dari tasnya dan dibagikan ke arah para santri.

Keunikan tradisi lempar buah yang sarat akan makna filosofis sudah ada sejak zaman dahulu. Sebagai simbol nyata rasa syukur kepada Allah SWT. atas melimpahnya hasil bumi dan bentuk penyaluran berkah atau tabarruk. Dengan pembacaan do’a oleh Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyyah, menjadi pertanda telah berakhirnya seluruh rangkaian acara. Acara terlaksana dengan lancar, meninggalkan kesan kegembiraan dan pesan yang kuat untuk menjaga kelestarian tradisi lokal.

Wallahu a’lam.

Oleh : Firda Sofi Annisa

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
berita

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Perdebatan Sengit Menyebabkan Beberapa Agenda Muktamar ke-35 NU Mengalami Keterlambatan

Perdebatan Sengit Menyebabkan Beberapa Agenda Muktamar ke-35 NU Mengalami Keterlambatan

Tragedi Mihnah: Penindasan Para Ulama Pada Masa Dinasti Abasyiah

Tragedi Mihnah: Penindasan Para Ulama Pada Masa Dinasti Abasyiah

Membaca di Toilet, Menulis di Penjara

Membaca di Toilet, Menulis di Penjara

Puncak Debat Ilmiah Mahrusy Fest

Puncak Debat Ilmiah Mahrusy Fest

Kebijaksanaan dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat dalam Islam

Kebijaksanaan dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat dalam Islam

Khazanah 2026: Makam Sunan Kudus

Khazanah 2026: Makam Sunan Kudus