Kediri, Elmahrusy Media.
Senin (03/08) Pondok Pesantren Darur Rosyidah dan Daru Zainab menggelar pembacaan kitab manakib Syekh Abdul Qadir Jilani dan Maulid Ad-Diya’ul Lami’ dalam rangka memperingati haul KH. Imam Yahya Mahrus yang ke-15.
Peringatan haul Kiai Imam Yahya Mahrus dilaksanakan dengan penuh khidmat di Aula Al-Fatah Sakan Daru Rosyidah. Acara yang dimulai tepat pukul 19.30 WIB ini dihadiri oleh Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah beserta Agus H. Ahmad Nasyroedin Moenir. Ikut memeriahkan pula dalam acara ini beberapa alumni Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah dan seluruh santri putri Pondok Pesantren Darur Rosyidah dan Daru Zainab.
Dalam sambutannya Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah selaku putri bungsu Kiai Imam bernostalgia mengenang tarbiyah dan keteladanan dari tindak laku sang ayahanda. Sosok yang selalu menganggap semua santrinya seperti putra dan putri kandungnya sendiri. Dengan peran guru sekaligus orang tua, Kiai Imam menjadi sosok yang memiliki tempat khusus dalam hati para santri.
Di tengah nostalgia Ning Ochi mengingatkan kita semua bahwa salah satu tarbiyah yang senantiasa diajarkan dan dicontohkan langsung oleh Yai Imam ialah ta’alluq atau irtibath batiniyah antara murid dengan gurunya. Dalam hal ini Yai Imam telah menjadi suri tauladan yang sangat patut kita jadikan contoh, dimana beliau begitu menggantungkan dirinya terhadap doa dan ridho guru-gurunya.
Berdasarkan kesaksian KH. Zuhrul Anam Hisyam yang akrab dengan sapaan Gus Anam, Hal ini dibuktikan dengan sikap ta’dzim beliau ketika sowan kepada guru yang tidak lain juga besan beliau, yakni Kiai Maemun Zubair. Sekalipun semua tamu duduk di atas kursi, Kiai Imam akan memilih duduk di bawah dengan posisi seperti tahiyat dalam sholat dan tidak menegakkan kepala sedikitpun di depan gurunya meskipun telah menjadi keluarga besan. Kejadian tersebut menyiratkan makna bahwa beliau tidak ingin ada sedikitpun tingkah laku yang dapat menghalangi ridho dan keberkahan dari gurunya.
Disamping itu, Ning Ochi juga menyampaikan nasihat yang didawuhkan Yai imam untuk para santri dan alumni,
“Lek e Sumpek Sambango Pondok, Insyaallah saget memunculkan dawa’ lan syifa’”.
Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kalimat tersebut bermakna “apabila hati sedang gelisah datanglah ke pondok, Insyaallah bisa mendatangkan obat” Satu kalimat singkat yang begitu berarti bagi para santri. Haul Yai Imam selain sebagi momen do’a dan nostalgia yang identik dengan kenangan lama, juga menjadi momen berkumpulnya para santri atau putra-putri Kiai Imam, inilah bentuk realisasi dan sami’na wa atho’na dari dawuh yang beliau sampaikan. Sebab dengan datang berkunjung ke pondok dan sowan kepada para masyayikh dapat menjadi obat bagi seorang murid, ibarat recharge batiniyah sebagai siraman hati yang kering akan nasihat dan doa para guru. Untuk itulah momen haul juga menjadi momen berkumpul untuk memperkuat ta’alluq antara santri dengan murobbinya baik batiniyah maupun dzohiriyah.
Pada pungkasan majelis malam ini, Ning Ochi berpesan untuk mari bersama-sama kita jalankan tarbiyah yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Kiai Imam Yahya Mahrus. Semoga kita senantiasa diakui sebagai santri beliau selamanya. Wallahu a’lam.