Kediri, Elmahrusy Media.
Jumat (14/08) Pondok Pesantren Darur Rosyidah kembali menggelar rutinan pembacaan syair burdah karya Imam Al-Bushiri. Sedikit berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Rutinan kali ini menjadi lebih Khidmat karena bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awal 1448 H, sekaligus lebih ceria sebab bertepatan dengan kejutan milad Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah (Ning Ochi).
Rutinan yang diikuti oleh seluruh santri Asrama Darsyi dan ibu-ibu jamaah burdah, menjadi lebih lengkap dengan kehadiran Agus Ahmad Nasyruddin Moenir (Gus Anaz) beserta kedua putra-putrinya yakni Kak Maheera Maziya Miskiyah dan adik tercinta Hirzi Imam Mahrus.
Dalam sambutannya Ning Ochi menyampikan terimakasih dan jazakumullah ahsanal jaza’ kepada seluruh jamaah atas do’a dan surprise yang diberikan. Disamping itu Ning Ochi juga kembali mengingatkan kita semua bahwa Rabiul Awal adalah bulan yang identik dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sosok panutan dan makhluq paling mulia yang wajib kita cintai.
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan dikumpulkan Bersama orang yang ia cintai di hari kiamat” Melengkapi yang didawuhkan oleh Ning Ochi, Gus Anaz juga menyampaikan dalam mau’idzah nya tentang betapa pentingnya kita mencintai Nabi Muhammad SAW dengan sholawat sebagai ekspresi cinta paling indah dan meneladani beliau sebagai bahasa cinta yang sempurna sebab beliau adalah sebaik-baiknya uswatun hasanah.
Dalam Maulid Ad-Dhiya Ul-Lami’ disebutkan,
“ampuni dosa-dosa kami ya allah, dengan keberkahan nabi Muhammad (al-hadi) sang pemberi syafaat”
Nabi Muhammad SAW ialah musyaffa’ (pemberi syafaat) seluruh umat. Putra Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah itulah yang menjadi objek paling tepat untuk kita cintai, sebab seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai. Hal ini telah dibuktikan oleh sosok penentang dakwah Islam, tak lain adalah Abu Lahab. Karena Ia sempat bahagia saat kelahiran Nabi Muhammad pada Senin, 12 Rabiul Awal.
Hanya karena pernah bergembira saat kelahiran Nabi, Abu Lahab mendapatkan bonus keringanan dari siksa api neraka setiap hari senin. Kisah tersebut kemudian menjadi refleksi, jika kegembiraan atas kelahiran Rasulullah saja memiliki nilai, bagaimana dengan umat yang tidak hanya bergembira, tetapi juga mencintai dan berusaha meneladani beliau?
Disamping sebagai musyaffa’ Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah. Salah satu contohnya ialah bagaimana beliau mengajarkan kita semua sikap toleransi beragama yang tercermin dalam Surat Al-Kafirun,
untukmu agamamu dan untukmu agamaku.
Tidak mencela agama lain dan tidak memaksakan orang lain untuk masuk Islam, itulah salah satu sikap yang seharusnya kita teladani dari sang baginda Nabi.
Rabiul Awal bukan hanya tentang mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW tetapi juga momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana cinta kepada beliau telah hadir dalam kehidupan kita? Lantunan Burdah yang menggema di majelis ini menjadi salah satu ikhtiar untuk merawat cinta tersebut. Sebab, cinta kepada Nabi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dihidupkan melalui shalawat, akhlak, dan keteladanan. Mari kita perbanyak membaca sholawat di bulannya sang pemilik sholawat, supaya kita tidak tertinggal syafaat.
Wallahu a’lam.