web analytics

Ayah… Ibu… Hapus Air Matamu

0 0
Read Time:1 Minute, 24 Second

Ayah… Ibu… hapus air matamu.

Aku menulis surat ini penuh rindu:

Ayah… Ibu… mengikhlaskan adalah perjalanan panjang yang tidak setiap orang mampu untuk menempuhnya.

Kesedihan, tangis, dan air mata tertebar di sepanjang lebar jalan bernama ikhlas itu.

Tetapi ayah, ibu, mau bagaimana pun, ikhlas juga bagian dari cinta.

Pada tahun ini, mungkin seisi rumah tak lagi sama. Mungkin akan terasa lebih sepi dan sunyi, mungkin juga hampa.

Tapi hari ini adalah satu minggu pertamaku di pondok pesantren yah, bu. Aku sudah mulai betah, temannya baik-baik, macam-macam daerah asalnya. Meskipun masih kepikiran ayah dan ibu.

Also Read: Pola Asuh

Terima kasih ya Yah, Bu. Kemarin sudah mengantarku ke pondok. Aku tau ini pilihan yang terbaik untukku. Tapi melihat ayah dan ibu menangis saat hendak pamit pulang, aku juga ingin menangis.

Apakah air mata itu kini sudah kering?

Jika air mata itu masih membasahi pelupuk mata dan pipimu, Gus Reza pernah bilang kepada kami bahwa memondokkan anak berarti orang tua juga memondokkan hatinya. Harus kuat dan tabah. Aku tau ayah dan ibu sayang padaku, tapi kalian juga harus bisa ikhlas. Karena berjuangnya aku di pondok juga menjadi bentuk sayangnyaku pada ayah dan ibu.

Jika hati dan pikiran itu masih aja menggelayut haru dan pilu, ayah dan ibu jangan henti-hentinya berdo’a untukku. Gus Reza juga bilang bahwa orang tua harus senantiasa mendo’akan anaknya, terlebih dengan membaca surat al Fatihah sebanyak 41 kali ba’da maghrib dengan harapan agar aku menjadi anak yang salih dan juga muslih. Juga untuk memeluk redam gelisah hati dan pikiran yang penuh.

Aku juga mendoakan ayah dan ibu di sini.

Kita sama-sama berjuang ya yah, ya bu.

Jangan lupa sambang aku!

Aku sayang ayah dan ibu.

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
Esaisantri baru

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Pola Asuh

Pola Asuh

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok

Mengenal Tujuan Maqosid As Syari’ah

Mengenal Tujuan Maqosid As Syari’ah

Apa Kita Boleh Cengeng Dalam Membaca?

Apa Kita Boleh Cengeng Dalam Membaca?

Sesaset Sepi yang Kita Seduh Sendiri

Sesaset Sepi yang Kita Seduh Sendiri