Setiap tahun, Ramadhan datang dengan wajah yang sama barisan shaf masjid menjadi lebih penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih sering, ibadah yang bisa disebut musiman dan lini masa media sosial yang dipenuhi dengan kutipan hadis dan potongan ceramah. Suasana religius terasa mengental. Namun pertanyaan sederhana sekaligus menggelisahkan, apakah Ramadhan benar-benar mengubah akhlak kita, atau hanya memperindah rutinitas ibadah selama tiga puluh hari ini?
Perintah shiyam (puasa) sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Perintah tersebut tidak berhenti pada perintah menahan lapar dan dahaga. Tujuannya jelas la‘allakum tattaqun, agar kamu bertakwa. Takwa dalam tradisi keilmuan Islam bukan sekadar kepatuhan formal, tetapi kesadaran moral yang membentuk karakter. Artinya, hakikat Ramadhan itu sendiri adalah sebuah pintu perbaikan akhlak, bukan sekadar kewajiban dan agenda tahunan.
Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa puasa dibagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasanya orang awam (menahan makan dan minum). Kedua, puasanya orang khusus (menahan anggota tubuh dari dosa). Ketiga, puasanya orang yang lebih khusus lagi (menjaga hati dari selain Allah). Klasifikasi ini menunjukkan bahwa esensi puasa terletak pada mensucikan bathin. Jika setelah Ramadhan lisan masih sering menyakiti, tangan masih ringan berlaku curang, dan hati tetap dipenuhi iri, maka yang berubah mungkin hanya jadwal makan kita dan jadwal ibadah yang meningkat seketika dan tidak berlangsung lama.
Di pesantren, Ramadhan melatih kesabaran melalui antrean kantin dan kamar mandi yang panjang, jadwal pengajian kitab kilatan yang padat, ditambah suasana pondok yang lumayan sumpek dan panas jika harus mengaji kilatan yang berkumpul menjadi satu di salah satu asrama. Semuanya mengajarkan kita keikhlasan yang tidak selalu disorot kamera, mengelola emosional secara pandai, serta menanamkan empati lewat rasa lapar yang sama-sama dirasakan. Fenomena lain yang bisa kita cermati adalah komersialisasi bulan suci. Dimana semua platform perbelanjaan diskon besar-besaran, konten religi yang diburu demi algoritma, sedekah yang lebih sibuk dipublikasikan daripada dirahasiakan, hingga trend bukber yang seringkali meninggalkan kewajiban. (naudzubillah)
Tentu tidak salah kita memanfaatkan momentum, tetapi ketika substansi kalah oleh sensasi, kita perlu tanya lagi pada hati kita sudahkah keikhlasan menjadi ruh ibadah? Jika Ramadhan benar-benar menjadi titik tolak, maka dampaknya harus terasa setelah Syawal dan terus berkelanjutan. Sebagai jurnalis pesantren, kita juga memikul tanggung jawab moral untuk mengarahkan narasi Ramadhan pada substansi, bukan sekadar sensasi. Literasi Ramadhan tidak cukup berhenti hanya pada hukum-hukum fikih dan konten-konten kegiatan ramadhan santri, tetapi juga berani menyentuh nilai etika dan maksud dari ramadhan itu sendiri.
Ramadhan datang bukan untuk sekadar kewajiban tetapi untuk dijalani secara sadar. Jika setiap Ramadhan kita keluar sebagai pribadi yang sama seperti sebelumnya, mungkin yang perlu diperbaiki bukan durasi puasanya, melainkan kualitas perenungannya. Wallahu a’lam
.