web analytics

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

0 0
Read Time:2 Minute, 1 Second

Iman diartikan secara sederhana sebagai mempercayai sesuatu dalam hati. Melakukan perintah Allah atau menjauhi larangannya. Pengertian itu memanglah benar. Namun sebenarnya iman memiliki arti yang jauh lebih luas dan mendalam. Bukan hanya sebatas enam rukun iman yang dipelajari kita sedari taman kanak-kanak. Dalam kitab Futuhatul Madaniyah karangan Syaikh Nawawi Al-Jawi dijelaskan bahwa iman bahkan terbagi menjadi 78 bagian (syu’abul iman).

Namun sebelumnya perlu kita ketahui, siapakah Syaikh Nawawi Al-Jawi? Beliau adalah salah satu ulama’ besar Nusantara asal Banten, Indonesia, yang menjadi Imam besar Masjidil Haram di Makkah. Dikenal sebagai mahaguru ulama’ dan dunia Islam pada abad ke-19, beliau sangat produktif menulis bahkan lebih dari 100 kitab dalam ilmu fiqih, tafsir, tauhid, dan tasawuf.

Beliau lahir di Tanara, Serang, Banten pada 1230 H/1813 M. Dan wafat di Makkah pada 1314 H/1897 M lalu dimakamkan di Ma’la, dekat sang Ummul muslimin Sayyidah Khodijah ra. Beliau setidaknya menulis 115 kitab, diantaranya: Tafsir Al-Munir, Syarah Fathul Al-Mubin, dan lain sebagainya.

Namun dengan kedudukan beliau yang tinggi di dunia keilmuan, beliau tetap dikenal sebagai hamba yang tawadhu’. Dalam salah satu kitab Karyanya yakni Tausyeh (Syarah Fathul Mu’in) beliau menyebut diri sendiri dengan Al-Faqir (orang yang sangat butuh kasih sayang Allah), atau bahkan ‘kotoran kaki santri’.

Beliau memiliki nama asli Muhammad. Dahulu saat ibu beliau mengandung, sang ayah memiliki nadzar yaitu bila kelak anak yang dilahirkan adalah seorang bayi laki-laki, maka akan diberi nama ‘Nawawi’ yang dikenal sampai sekarang sebagai bentuk harapan dan doa yang dinisbatkan pada seorang ulama’ besar mazdhab Syafi’i dengan salah satu Karya masyhurnya yakni Arba’in Nawawi.

Dalam kitab Futuhatul Madaniyah ini, Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa pemaparan yang diterangkan dalam isi kitabnya ialah ringkasan kecil cabangnya iman yang beliau kutib dari dua kitab induk yakni Nuqoyyah karya Imam As Suyuthi dan Futuhatul Makayyah karya Syaikh Muhammad bin Ali yang kemudian dijelaskan satu persatu secara ringkas, rinci, serta mendalam dalam sub babnya.

Dalam bab awal, dijelaskan hakikatnya mu’min sejati. Ada pula pengertian dan macam-macam hukum yang ada dalam ajaran Islam mulai dari wajib, sunnah sampai nafl (tambahan) serta cabangan hukum lainya. Dan dipembahasan berikutnya diterangkan satu persatu cabangan iman. Mulai dari yang terpokok yakni iman pada Allah, Malaikat, Rosul, dan cabangan-cabangan iman lainya serta tujuh tingkatan nafsu. Meski ditulis oleh ulama’ abad ke-19, namun kitab ini tetap relevan bagi permasalahan akhlak dan kepribadian muslim modern hingga saat ini.

Wallahu a’lam.

 

Oleh: Zahra Nur Khumairo

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
ngajiopini

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan   

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan  

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar