Identitas Buku
| Nama Buku | : Rinda-Rindu Kopa-Kopi |
| Nama Penulis | : Cakcur, Farhan al Fadhil, Bienabbas |
| Kategori | : Sastra |
| Genre | : Romance, Agama, Sosial |
| Tahun Terbit | : 2020 |
| Nama Penerbit | : Lembaga Ladang Sastra |
| Cetakan | : Pertama |
| Ukuran | : 14 x 20 cm |
| Jumlah Halaman | : 160 |
| Nomer ISBN | : 978-623-7089-77-3 |
| Harga Buku | : Rp.- |
Narasi
Sebagaimana judulnya, buku tersebut pada dasarnya sarat akan rindu dan kopi. Begitu kental. Meskipun para penulis itu menyampaikan dalih dalam Eksepsi:
“Kami mohon Anda tidak berharap buku ini berisi puisi dan segala antitesisnya terhadap rindu dan kopi (lihat saja judulnya. Seperti mengejek penyair yang setia pada frasa rindu dan kopi untuk menumpahkan segala resahnya pada cinta). Kalau ternyata Anda berharap demikian, tutup buku ini mulai sekarang dan lemparkan ke tempat sampah. Eh jangan. Donasikan ke perpustakaan kampung Anda saja. Barangkali ada yang selera bacanya tidak seeksklusif Anda.”
Buku ini merupakan antologi puisi dari 3 orang penyair yang menamai dirinya masing-masing sebagai Cakcur, Farhan al-Fadhil, dan Bienabbas; 3 orang yang gagal dalam menghadapi pertanyaan rindu dan mencari jawabannya pada masa lalu, kini, dan angan-angan. Sepenuhnya putus asa.
Meskipun begitu, mereka tetap mengakui “Memang kami adalah pria-pria yang berbeda dalam banyak hal. Namun kami bersepakat setidaknya dalam satu hal: rindu dan kopi adalah ramuan paling hangat untuk memeluk romansa, agama, bahkan tragedi.”
Mereka menyadari betul, bahwa apa yang mereka sampaikan dalam puisi. Mereka tau dengan lekat perihal kapasitas dan batas-batas yang dimiliki. Bahkan mereka menguitip konsep intelektual sub amatir-nya Edward Said yang menjelaskan, intelektual amatiran ialah mereka yang bekerja tidak terikat pada spesialisasi, yakni murni bergerak atas nama rasa dan kepedulian. Barangkali mereka bernasib demikian.
Terakhir dalam Eksepsi tersebut:
“Apa yang hadir di sini jelas bukan berasal dari seorang professional sastra, yang mempunyai keahlian dan spesialisasi dalam puisi dan kata-kata. Kami hanya ingin terlihat peduli pada realitas, dan ingin membahasakan apa saja yang mungkin, seingat-ingatnya, selugu-lugunya, dan sebahagia-bahagianya.”
Mereka menulis Eksepsi di Cairo, 27 April 2020.
Dengan ini, akan saya lampirkan puisi-puisi mereka yang begitu terasa manisnya rindu dan pahitnya kopi, hingga menggelitik di telinga