“Terima kasih kepada Pak No yang telah memberikan analogi singkat tentang suara.” Terang gadis moderator dalam acara ‘Bincang: Suara Perusak Segala’ yang membahas seputar suara, khususnya suara di negara yang menganut sistem demokrasi.
Pak No sebagai salah satu perwakilan dari jutaan rakyat dipilih sebagai pembicara karena beliau dikenal sebagai seseorang yang subjektif dan egois. Menurutnya, suara sangat berbahaya, bahkan bisa menghancurkan satu negara. Bukan tanpa dasar, beliau menilik dari peristiwa yang terjadi pada bulan Agustus kemarin, di mana beberapa provinsi berhasil menjadi saksi bisu atas menyeramkannya suara ketika tidak disertai akal.
Video amatir kejadian diputar dalam acara tersebut. Kandang tikus dibakar, gas air mata memenuhi atmosfer, penjarahan di mana-mana membuat semua peserta acara yang menyandang status priyayi ciut. Acara yang dilangsungkan di bawah kolong jembatan dan dihadiri kaum priyayi itu merupakan rutinitas yang diadakan sebulan sekali.
Tema Suara Perusak Segala hadir sebagai penyokong tragedi-tragedi yang terjadi belakangan. Acara ini tidak dimuat di mana pun, bahkan pimpinan negara, aparat, dan pegawai negeri tidak tahu. Acara yang singkat namun dapat menghasilkan daging. Perkumpulan priyayi terlihat tidak peduli dengan negeri, padahal mereka sangat antusias sampai mengadakan acara aneh ini setiap bulan.
“Unjuk rasa tidaklah apa, mungkin mereka merasa negeri tidak adil.” Sahut orang berkulit hitam yang duduk tak jauh dari panggung.
“Apakah negara tidak adil? Sebenarnya bagaimana konsep keadilan dalam negara? Negara yang tidak adil atau mereka yang egois ketika diberi seonggok kertas dan memilih berhenti mengungkapkan pendapat, berhenti unjuk rasa, serta mendekam dalam miliyaran kertas?” Ribuan tepuk tangan membuat acara tidak kondusif.
“Dalam coretan tangan Plato, dijelaskan bahwa keadilan dapat diperoleh ketika dipimpin oleh seorang filsuf yang menggunakan white lies atau kebohongan yang mulia, sebuah bentuk aristokrasi yang otoriter dalam arti bahwa para penguasa tidak dipilih oleh rakyat dan memiliki kekuasaan mutlak untuk membimbing masyarakat menuju kebaikan.
Keadilan menurut Plato adalah kondisi di mana setiap bagian masyarakat melakukan tugasnya masing-masing secara harmonis. Hal-hal tersebut dapat memberikan keadilan yang bersifat kolektif dalam suatu negara, bukan keadilan individu yang hanya menumbalkan hewan berakal. Mengambil contoh keadilan kolektif dalam Athena.”
Di kala Pak No terus mengeluarkan omong kosongnya, Mas Doeng dengan tegas menjanggal.
“Pembodohan! Bapak seolah mendukung negara yang dipimpin oleh seorang otoriter. Apakah belum puas dibantai Harto? Menurut saya, keadilan kolektif tidak hanya bisa diperoleh menggunakan pemerintahan otoriter, keadilan individu pun akhirnya akan menjadi keadilan kolektif.
Ketika satu orang merasakan keadilan dan orang tersebut menyebarkan keadilan-keadilan dalam bentuk individu, maka terciptalah keadilan individu lain yang nantinya akan menciptakan keadilan kolektif. Dengan itu, masyarakat yang semula hanya memperoleh keadilan secara individu akan berusaha dengan sendirinya untuk memperoleh kesejahteraan dalam bersosial.”
“Mas Doeng berbicara seperti itu apa sudah tahu kendalanya? Apa sudah dicoba? Kalau belum ayo cobain! Masyarakat yang egois itu banyak, Mas. Mereka unjuk rasa untuk memperoleh keadilan individu yang berkedok keadilan bagi seluruh rakyat. Ketika nanti mereka sudah memperoleh keadilan secara individu, mereka tidak akan memikirkan hewan-hewan berakal lainnya. Saya bisa membuktikannya dengan kasus yang terjadi belakangan.”
Perdebatan antara Pak No dan Mas Doeng menciptakan dua kubu yang berseteru. Entah berapa minggu perbincangan ini berlangsung. Mereka seolah dibodohi pemikiran mereka masing-masing.