Seorang gendut, hitam, pendek, botak, dan bau itu berhasil membuat sebuah permata hasil pemikirannya. Di dalam goa yang tak pernah ada cahaya surya, makanan, juga minuman, pria tersebut selalu menghasilkan permata setiap hari dan mengumpulkannya hingga akhirnya ia tergencet permata yang dibikinnya sendiri di dalam goa tanpa pintu.
Padahal, saat kemarin kutanya, caranya menghasilkan permata sangatlah mudah, pria tersebut mempraktekkan dengan cara berjongkok lalu ngeden sampai keluar permata dari kepala. Kalau dari dulu aku tahu hanya seperti itu cara bikin permata, aku juga mau—dan bisa kalau tinggal jongkok doang.
Tapi kenapa dengan goanya? Hidup buat apa di dalam goa selamanya? Kutukan itu ujung-ujungnya bikin dia mati tergencet antara dinding goa dan permukaan permata hasil pemikirannya sendiri. Kenapa dia tidak menikmati dunia?
***
Aku tidak bersekolah, tidak berpendidikan, dan tidak beragama, untungnya aku masih punya akal. Di dalam ruang kecil ini aku selalu memaki juga tak pernah bersyukur. Hari-hari mengalir begitu saja ditemani pikiran yang berisik dengan miskin aksi. Selain berpikir, aku juga dipaksa melahirkan permata dari tanganku di bawah terik matahari, di atas aspal, di tengah-tengah bau asap knalpot.
Setiap pukul 08.00 pagi, ruang sempit juga lembap ini bertegur sapa dengan udara segar yang datang dari pintu—yang hampir copot saja masih dibuka paksa—itu. Orangnya tinggi, kekar, putih, wangi, dan gondrong. Suaranya yang lemah lembut selalu bikin aku takut bersembunyi di pojok ruang ditemani lumut dan cat yang mengelupas. Duduk meringkuk sambil memaksa agar mata senantiasa menutup.
Meski begitu tidak terlihatnya aku, orang itu tetap menarikku—dengan tarikan yang seolah sedang menyelamatkan seorang anak dari kesuraman—ke luar ruangan. Ban lengan warna merah polos selalu dipakaikan ketika aku disuruh keluar untuk makan rumput sejenak—macam hewan ternak.
***
“Harum wangi, cantik berseri. Hari ini aku mau makan kari.” Mukanya sudah berseri, hati pun ikut menari. Orang ini memang selalu begini. Setiap pagi di depan cermin. Katanya, biar cantik macam Jimin.
Sudah hampir 10 tahun aku mati di sini. Aku habiskan 10 tahun itu hanya untuk menghidupi pasangan gento ini. Lakinya seorang preman rumahan yang selalu mabuk di kolong jembatan. Sedang wanitanya preman pasar yang selalu meninju manusia.
***
Ketika aku sedang digembalakan, tempat yang pertama kali kutuju adalah Warung Tegal Bu Hari di samping ATM BRI. Bu Hari sungguh baik. Meski hanya bawa uang seratus ribu rupiah aku sudah bisa mendapatkan seporsi nasi, sayur asem, perkedel, dan es teh—tidak lupa seporsi orek yang diberi nama Mustofa. Makan dengan lahap, lalu pamit pada Bu Hari.
Ketika sudah mulai jenuh dengan masakan Bu Hari, aku akan menuju ke Warung Pak Rad. Motto beliau adalah ‘bayar sepantasnya ambil sepuasnya’. Bagaimana tidak? Dengan uang tujuh puluh lima ribu rupiah aku sudah bisa makan sampai kenyang hingga bikin hati mati. Sudah cukup makan-makannya, kalau cerita ini, aku jadi lapar lagi.
Ketika aku sedang merumput, biasanya kalau tidak minta rumput, ya mencari rumput yang berserakan di pinggir jalan untuk kemudian ditukarkan dengan rumput yang lebih layak. Daripada meminta rumput, aku paling suka memberi makan Batu Keras dengan rumput.
Bikin kesal saja Si Batu Keras. Hidupnya hanya dihabiskan untuk membuang kedamaian dan mencari bahan perdebatan. Cuih! Mau diberi air, bahkan air ludah pun tak mampu melunakkan kepalanya.
***
Di situlah aku menemukan Pria Permata tadi. Di dalam kepala Si Batu Keras. Ternyata Si Batu Keras terlalu sibuk dengan peperangannya, hingga ia tega memenjarakan Pria Permata di dalam kepalanya sebagai seseorang yang bertugas meludahi orang lain dengan permatanya.
Atau malah dugaanku salah? Bisa saja Pria Permata itu bukanlah orang lain yang dipenjarakan, melainkan sisi lain dari Si Batu Keras yang difungsikan untuk menilai empati orang. Kurasa tidak mungkin. Buat apa menilai atau dinilai jika dirimu tak bernilai? Lagi pula apa pentingnya nilai? Hidup hanya mengejar nilai akan buat Anda hidup dalam dunia yang kompleks.
Aku selalu bingung. Bagaimana orang yang dipenjara dapat menghasilkan permata yang tak berharga? Padahal sampah tutup botol yang kukumpulkan harganya empat puluh ribu rupiah per-kilo.