web analytics

Ahmad Tohari: Debat Tidak Perlu Musyawarah Nomor Satu

0 0
Read Time:3 Minute, 23 Second

Tim Redaksi Majalah Elmahrusy berkesempatan berkunjung ke kediaman Ahmad Tohari—seorang sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka wawancara eksklusif serta pengumpulan materi untuk mengisi rubrik Interview Spesial pada Majalah Elmahrusy Edisi 31 yang akan datang dengan mengusung tema Sastra Pesanren & Polemik Literasi.

Prosesi wawancara berlangsung lancar dan hangat. tim redaksi menggali lebih dalam mengenai polemik literasi di Indonesia, sastra Indonesia, krisis sastra Indonesia, hingga proses kreatif beliau dalam menulis karya-karyanya.

Ketika sedang membahas sastra pesantren, beliau mengungkapkan, “Saya sangat khawatir apabila seorang santri sempit pikirannya dan arogan pribadinya—selalu membenarkan kalangannya sendiri. Padahal kebenaran yang ada dalam diri kita adalah kebenaran yang relatif, sementara kebenaran mutlak hanya milik tuhan. Musyawarah memang perlu, tapi untuk debat, saya rasa tidak perlu menabur sikap ingin menang sendiri.”

Hati saya sungguh tersentuh ketika mendengar itu. Budaya bermusyawarah tentu masih mengakar di berbagai pesantren salafi. Musyawarah yang membahas berbagai redaksi dalam kitab kuning pada beberapa macam fan ilmu, seperti nahwu, fiqih, dan lain-lain telah mengakar menjadi rutinan sampai kegiatan mingguan.

Also Read: Life as a Gamble

Dalam bermusyawarah tak jarang kita mendapati seseorang yang begitu suka terhadap perdebatan untuk mempertahankan keyakinan atau mencari kebenaran. Seseorang yang sudah tahu jika dirinya salah malah mencari suatu pembenaran, seseorang yang rakus akan kemenangan dan tak pernah mau mengalah, seseorang yang hanya berkiblat pada sebuah pemikiran. Padahal kebenaran yang membersamai manusia hanyalah kebenaran yang relatif bagi individu masing-masing dengan pemikiran dan keyakinan yang berbeda-beda.

Perdebatan yang sehat dapat menunjukkan bahwa seseorang memiliki pemikiran yang kritis dengan wawasan yang tinggi, selain itu debat juga dapat membantu melatih pikiran dalam menguji ide agar lebih kuat. Namun sebaliknya, apabila disampaikan dengan cara yang salah, perdebatan menjadi ajang seseorang menyempitkan pikiran hingga menciptakan sosok yang arogan.

Apabila membahas musyawarah dalam lingkup pesantren, tentu perdebatan merupakan salah satu proses dalam membangun karakter seorang santri agar dapat berpikir secara kritis dan membangun keberanian berbicara atau mengungkapkan pendapat. Oleh karena itu, sangat diperlukan sosok guru yang senantiasa mendampingi ketika prosesi musyawarah berlangsung.

Hal tersebut diperlukan untuk mengatur keberlangsungan musyawarah dan perdebatan yang sehat dan terarah. Meski perdebatan dalam lingkup musyawarah kitab kuning adalah ajang pelatihan dan belajar, apabila seseorang telah terbiasa menerapkan perdebatan yang tidak sehat, maka hal tersebut—secara tidak langsung—akan mengakar dalam diri seseorang tersebut.

Itulah yang ditakutkan juga dikhawatirkan oleh Ahmad Tohari. Seorang santri yang nantinya akan bermasyarakat haruslah memiliki pandangan yang luas terhadap kehidupan, sehingga seorang santri dapat menjadi pribadi yang bisa menerima orang lain, bisa diterima orang lain, juga terbuka. Sikap toleran dan pribadi yang telah disebutkan di atas dapat menjadi bekal para santri dalam berkhidmah di masyarakat yang terdiri dari macam-macam pandangan dan banyak perbedaan.

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ 

“Aku menjamin sebuah rumah di sekitar surga bagi seorang lelaki yang menghindari pertengkaran meskipun ia benar, sebuah rumah di tengah surga bagi seorang lelaki yang menghindari kebohongan meskipun ia bercanda, dan sebuah rumah di bagian atas surga bagi seorang lelaki yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

Dalam redaksi di atas dapat disimpulkan bahwa menghindari pertengkaran meskipun memiliki keyakinan, pandangan, atau pemikiran yang benar adalah sesuatu yang lebih utama. Perdebatan dengan pertengkaran memang tidak jauh berbeda. Perdebatan adalah adu pendapat atau ide yang bertujuan untuk mencari kebenaran atau Solusi, sementara pertengkaran adalah konflik yang disertai emosi, amarah, dan keinginan untuk saling mengalahkan. Dalam prosesi musyawarah, tak jarang kita dapati pertengkaran yang berakar dari perdebatan. Oleh karena itu, kita haruslah bisa membedakan keduanya.

Maka dari itu, perdebatan yang sehat dalam sebuah musyawarah, baik di dalam maupun di luar lingkup pendidikan, sangat diperlukan.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Life as a Gamble

Life as a Gamble

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW:Wujud Cinta dan Penghormatan Umat

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW:Wujud Cinta dan Penghormatan Umat

Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

Apakah Perempuan Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Perempuan Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan