web analytics

Apakah Perempuan Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

0 0
Read Time:5 Minute, 3 Second

Setiap Agustus, kita kembali mengulang kata yang sama: merdeka. Ia hadir dalam upacara, kibaran bendera, perlombaan, pidato, dan berbagai perayaan yang memenuhi ruang-ruang kehidupan. Namun, di tengah riuh perayaan kemerdekaan, barangkali ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: apakah semua orang benar-benar merasakan kemerdekaan yang sama?

Bagi perempuan, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai kesempatan untuk belajar, bekerja, berkarya, atau menyampaikan pendapat. Ada bentuk kemerdekaan yang jauh lebih mendasar: kemerdekaan untuk merasa aman. Aman ketika berjalan di ruang publik, aman ketika berada di lingkungan pendidikan, aman ketika bekerja, dan aman ketika menggunakan ruang digital.

Sebab, sulit mengatakan seseorang benar-benar merdeka jika dalam menjalani kehidupan ia masih harus terus-menerus dihantui rasa takut.

Perempuan seharusnya dapat pergi ke sekolah tanpa khawatir mengalami pelecehan. Ia berhak berada di ruang publik tanpa menjadi sasaran komentar yang merendahkan tubuhnya. Ia berhak bekerja tanpa menghadapi perlakuan yang melecehkan martabatnya. Ia juga berhak menggunakan media sosial tanpa menerima ancaman, penghinaan, atau pelecehan.

Rasa aman bukan kemewahan. Ia adalah bagian dari kemerdekaan.

Persoalannya, ruang-ruang yang kita sebut sebagai ruang bersama belum selalu benar-benar aman bagi perempuan. Jalan, kendaraan umum, tempat pendidikan, tempat kerja, bahkan media sosial masih dapat menjadi ruang terjadinya kekerasan dan pelecehan.

Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, perempuan masih dapat berhadapan dengan siulan, komentar mengenai tubuh, tatapan yang membuat tidak nyaman, atau tindakan lain yang melewati batas. Ketika hal itu terjadi, tidak jarang perempuan justru diminta untuk lebih berhati-hati: jangan pulang terlalu malam, jangan berjalan sendirian, jangan berada di tempat tertentu, atau jangan mengenakan pakaian tertentu.

Menjaga keselamatan tentu penting. Namun, ada persoalan yang perlu kita renungkan: mengapa tanggung jawab untuk mencegah pelecehan sering kali justru dibebankan kepada perempuan?

Ketika seorang perempuan mengalami pelecehan, pertanyaan pertama yang muncul semestinya bukan, “Mengapa ia berada di sana?” atau “Mengapa ia berpakaian seperti itu?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa seseorang merasa berhak melakukan pelecehan terhadapnya?”

Perubahan cara pandang inilah yang diperlukan. Ruang publik yang aman bukan ruang yang membuat perempuan harus terus-menerus membatasi dirinya. Ruang publik yang aman adalah ruang yang membuat setiap orang memahami batas, menghormati tubuh dan martabat orang lain, serta tidak menganggap pelecehan sebagai candaan.

Begitu pula dengan pendidikan. Selama ini pendidikan kerap disebut sebagai jalan menuju kemerdekaan. Melalui pendidikan, seseorang memperoleh ilmu, mengembangkan kemampuan berpikir, dan memiliki kesempatan menentukan masa depan. Karena itu, sekolah, kampus, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman kepada setiap orang.

Namun, keamanan di lingkungan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya kekerasan fisik. Candaan yang merendahkan, komentar terhadap tubuh, stereotip tentang kemampuan perempuan, perundungan, dan pelecehan juga dapat menciptakan lingkungan yang membuat seseorang merasa tidak aman.

Pendidikan yang memerdekakan bukan sekadar memberikan kesempatan kepada perempuan untuk duduk di ruang kelas. Lebih dari itu, pendidikan harus mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.

Anak-anak dan remaja perlu belajar bahwa bercanda memiliki batas, tubuh orang lain bukan objek untuk dikomentari, dan kekerasan tidak pernah menjadi sesuatu yang pantas dibenarkan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang berpengetahuan, tetapi juga manusia yang tahu bagaimana memperlakukan sesamanya.

Persoalan serupa juga dapat ditemukan di dunia kerja. Perempuan yang memasuki dunia profesional seharusnya dinilai berdasarkan kemampuan dan kontribusinya. Namun, dalam kenyataan, perempuan terkadang masih berhadapan dengan komentar seksual, diskriminasi, intimidasi, atau stigma yang tidak berkaitan dengan kompetensinya.

Perempuan yang tegas dapat dianggap terlalu keras. Perempuan yang lembut dianggap tidak cukup mampu memimpin. Ketika memilih berkarier, ia dapat dianggap mengabaikan keluarga. Ketika memilih keluarga, ia dapat dianggap tidak memiliki ambisi.

Also Read: Pola Asuh

Stigma semacam itu memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Ia juga dapat hadir melalui cara pandang yang terus-menerus membatasi perempuan.

Karena itu, tempat kerja yang aman membutuhkan lebih dari sekadar aturan tertulis. Diperlukan budaya yang menghormati setiap orang, mekanisme pengaduan yang dapat dipercaya, serta keberanian untuk tidak menormalisasi pelecehan dan diskriminasi.

Lalu, bagaimana dengan ruang digital?

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sana orang belajar, bekerja, berdiskusi, berdakwah, berkarya, bahkan membangun hubungan sosial. Namun, ruang digital juga menghadirkan bentuk-bentuk kekerasan yang berbeda.

Perempuan dapat menjadi sasaran komentar tentang tubuh, penghinaan, pelecehan melalui pesan pribadi, perundungan, hingga penyebaran informasi pribadi. Karena berlangsung di balik layar, kekerasan digital terkadang dianggap tidak serius. Padahal, dampaknya tetap nyata.

Di balik setiap akun terdapat manusia. Kata-kata yang kita ketik mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dikirim, tetapi dampaknya bagi orang lain bisa jauh lebih panjang.

Maka, kemerdekaan di ruang digital tidak semestinya dimaknai sebagai kebebasan untuk mengatakan apa saja tanpa batas. Kebebasan berbicara selalu berjalan bersama tanggung jawab. Kita boleh berbeda pendapat, mengkritik, bahkan tidak menyukai seseorang. Namun, perbedaan tersebut tidak memberi kita hak untuk melecehkan atau merendahkan martabat orang lain.

Pada akhirnya, membicarakan kemerdekaan perempuan bukan berarti menempatkan perempuan sebagai kelompok yang lemah. Justru sebaliknya, pembicaraan ini adalah upaya untuk memastikan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk hidup, belajar, bekerja, berkarya, dan menentukan masa depannya tanpa dibatasi rasa takut.

Perlindungan memang penting. Tetapi yang lebih penting adalah mengubah cara kita memandang kekerasan dan pelecehan. Jangan sampai masyarakat lebih sibuk mengatur bagaimana perempuan harus berpakaian, berbicara, atau beraktivitas daripada mengajarkan kepada semua orang bagaimana menghormati sesama.

Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan dengan mengingat perjuangan para pendahulu. Namun, kemerdekaan bukan hanya cerita masa lalu. Ia harus terus dihidupkan dalam persoalan yang kita hadapi hari ini.

Maka, ketika bendera merah putih kembali berkibar, mungkin sudah waktunya kita bertanya lebih jauh: sudahkah kemerdekaan benar-benar terasa di sekitar kita?

Jika perempuan masih merasa takut berada di ruang publik, jika korban pelecehan masih disalahkan, jika lingkungan pendidikan belum sepenuhnya aman, jika tempat kerja masih menyimpan diskriminasi, dan jika ruang digital menjadi tempat orang bebas merendahkan sesamanya, barangkali masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sebab, merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Merdeka juga berarti terbebas dari rasa takut yang tidak semestinya.

Pada akhirnya, ukuran kemerdekaan bukan hanya seberapa tinggi bendera berkibar, tetapi juga seberapa aman setiap manusia dapat berjalan di bawahnya. Dan ketika seorang perempuan dapat belajar, bekerja, berkarya, bersuara, dan berada di ruang publik tanpa dihantui ketakutan, di sanalah kemerdekaan menemukan maknanya yang paling manusiawi.

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan

Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Pola Asuh

Pola Asuh

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok