web analytics

Pola Asuh

0 0
Read Time:3 Minute, 6 Second

Hari Anak Nasional merupakan momentum yang penting untuk mengingatkan kita, bahwa anak adalah generasi penerus bangsa yang harus dijaga dengan kasih sayang, perhatian, dan tanggung jawab. Pola asuh yang baik akan memberikan dampak pada pada anak tersebut berupa kemandirian, berakhlah mulia, kesehatan mental dan kesehatan fisik. Sementara pola yang buruk akan memberikan dampak yang merugikan untuk masa depan anak tersebut. Maka dari itu, setiap lingkungan rumah, sekolah, Masyarakat, daycare, sampai pondok pesantren harus memiliki peran besar dalam menerapkan pola asuh yang baik, agar anak-anak tumbuh menjadi generasi emas Indonesia yang siap menghadapi masa depan.

  1. Pola Asuh di Rumah

Rumah merupakan tempat pertama bagi anak untuk menerima pembelajaran secara informal. Disinilah mereka mulai mengenal dan memahami kasih sayang, aturan, dan komunikasi. Pola asuh demokrasi (authoritative parenting) sangat penting, karena orang tua tidak hanya memberi peraturan yang jelas, namun juga mendengarkan pendapat anak. Menurut Baumrind (1991), pola asuh demokratis merupakan pola pengasuhan yang paling efektif dalam mendukung perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Dengan pola asuh ini, anak akan tumbuh dengan percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam aktivitas sehari-hari anak juga akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak.

  1. Pola Asuh di Sekolah

Sekolah adalah tempat anak untuk menimba ilmu dan membentuk karakter sekaligus kepribadian. Dimana dalam sekolah, guru berperan sebagai seseorang yang membimbing dan memberikan ilmu dalam proses pembelajaran, interaksi guru dan murid harus berjalan dengan baik, agar memeperlancar kegiatan belajar mengajar. Pola asuh yang harus diterapkan adalah pola asuh partisipatif, yaitu melibatkan siswi dalam diskusi, memberi motivasi, dan menumbuhkan kreativitas serta disiplin. Pianta (1999) menjelaskan bahwa hubungan yang positif antara guru dan peserta didik berkontribusi terhadap keberhasilan belajar serta perkembangan sosial dan emosional anak. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan sekolag yang aman, nyaman, dan inklusif akan meningkatkan semangat belajar, rasa percaya diri, dan kemampouan bekerja sama.

  1. Pola Asuh di Masyarakat

Masyarakat adalah lingkungan sosial yang turut andil dalam membentuk identitas anak dalam berinteraksi dengan berbagai individu. Melalui berbagai kegiatan dalam Masyarakat, dimulai dari bermaian Bersama teman sebaya dan mengikuti berbagai kegiatan sosial dan budaya, maka anak akan belajar mengenai nilai gotong royong, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesame. UNICEF (2018) menegaskan bahwa perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi oleh keluarga, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang aman, peduli, dan mendung. Oleh karena itu, seluruh lapisan Masyarakat memiliki tanggung jawab dan keikut sertaan dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan mampu hidup dengan orang lain.

  1. Pola Asuh di Daycare

Daycare merupakan Solusi bagi orang tua modern yang bekerja, untuk memastikan anak tetap mendapatkan pengasuhan yang berkualitas. Dalam hal ini, pengasuh yang berada didaycare harus menerapkan pola responsive, yaitu pengasuh memperhatikan dan mengetahui kebutuhan  emosional dan fisik anak serta memberikan stimulasi bermain edukatif. Menurut World Health Organization (WHO), UNICEF, dan World Bank Group (2018), pengasuh yang responsif dapat menjadi salah satu factor utama yang mendukung perkembangan otak, Kesehatan emosional, dan kemampuan belajar anak sejak usia dini. Oleh karena itu, kegiatan bermain yang edukatif, komunikasi yang hangat, serta perhatian terhadap keamanan dan kenyamanan anak akan membantu perkembangan Bahasa, motorik, sosial, dan emosional secara optimal.

  1. Pola Asuh di Pesantren

Pesantren merupakan Lembaga Pendidikan yang tidak hanya mempelajari ilmu agama, namun juga membantu membentuk kedisiplinan, akhlak dan karakter anak. Pola asuh berbasis nilai- nilai keislaman diterapkan melalui keteladanan ustadz-ustadzah, pembiasaan ibadah, serta pembinaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Al-Attas (1991) menyatakan bahwa tujuan Pendidikan islam adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia, serta seimbang dalam aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Karena itu, pesantren tidak hanya memberi bekal santri dengan imu agama saja, namun tetap menanamkan nilai tanggung jawab, kemandirian, kesederhanaan, kerja sama, dan rasa hormat kepada guru maupaun sesamea, sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat.

Oleh: Soraya

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

Utopia Pendidikan dalam Negara Kita

Apakah Perempuan Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Perempuan Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Apakah Literasi Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan

Kemerdekaan dan Peran Santri: Jejak yang Sering Terlupakan

Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok