Identitas Buku
| Nama Buku | : Ditusuk Rindu Hingga Tulang |
| Nama Penulis | : Arial Karwa |
| Kategori | : Puisi |
| Genre | : Elegi |
| Tahun Terbit | : 2022 |
| Nama Penerbit | : Shira Media |
| Cetakan | : Ketiga |
| Ukuran | : 13 x 19 cm |
| Jumlah Halaman | : 128 |
| Nomer ISBN | : 978-602-7760-50-9 |
| Harga Buku | : Rp.55.000 |
Narasi
Sebagai seorang pembaca, tidak sedikit benar-benar menang jika dihadapkan dengan rajutan kata yang diberi nama puisi. Suatu hal yang tampak indah dalam kasat mata, menjuntai menyapa, malah pada akhirnya melilit kemudian. Menyesakkan. Hal yang pada awalnya manis, semakin dikecap malah kian tragis.
Begitulah puisi. Meskipun kita tidak benar-benar tau dan paham perihal pesan apa yang ingin disampaikan seorang penulis kepada pembacanya, makna apa yang dipendam begitu dalam untuk berusaha kita gali, meskipun pada akhirnya hanya mampu untuk beberapa keping; begitulah puisi: rasa dan nuansa itu tetap tercium harum. Pekat.
Mengutip sekuntum ciumnya Rabu Pagisyahbana dalam kata pengantar buku ini yang diberi judul Tiga Tusuk Rindu Si Anak Batu:
Ribuan rindu telah selesai ditulis, telah banyak dikupas, terjawab, dan kembali dipertanyakan. Kemudian kita bertanya, bagaimana sebuah rindu terlahir, bekerja, dan mati tergantikan dalam diri seseorang?
Lagi:
‘Ditusuk Rindu Hingga Tulang,’ buku di tangan kita ini adalah mosaik puisi panjang dari perjalanan diri seseorang yang terlibat dalam pergulatan rindu. Arial Karwa di sini, berusaha ketat dalam memberikan batas arti sekaligus memberi kelonggaran akan rindu yang terjadi. Tiga tusuk rindu ia terima: rindu yang ia cari, rindu yang ia temukan, serta rindu yang ia pelajari di tengah perjalanan.
Dan apa yang disampaikan Rabu, benar-benar terpatrikan dalam setiap larik-larik kata yang penuh daya tarik. Apalagi dari setiap puisi, setiap lembar, Arial Karwa juga turut menyulap puisi dalam guratan ilustrasi yang abstrak, absurd, dan magis.
Jelas saya tidak ingin bersendu gurau seorang diri, kalian juga berhak larut dalam mengheningkan cinta.