Suatu hari, saya mengamini angan-angan indah opini dan perspektif saya yang selama ini terpendam stigma dan stereotip: untuk pada akhirnya saya membeli kaos pink pertama saya!
Semua keberanian itu bermula pada saat saya menonton podcast Raditya Dika yang kesekian, yang kebetulan dibintangtamui oleh Dr. Tirta dan Ummi Quary yang keseluruhan topik obrolannya adalah membahas isu kesehatan.
Tapi di menit yang berharga, pembahasan mengarah pada sentiment warna pink yang diimani oleh Raditya Dika dalam berpakaian. Mendapat cercaan, ia balik nungkik bertanya menantang: “Kalian tau nggak sejarah warna pink?!”
Di detik itu, saya ikut bertanya dalam pikiran dan benak, sebelum pada akhirnya mencari tau, terpukau, mengubah perspektif dan argumentasi, hingga memutuskan diri dengan berani dan mantap untuk membeli kaos pink pertama saya.
Hingga rasaya, sepotong kaos pink dengan harga terjangkau ini terasa sangat bergizi karena tendensi knowledge-nya. Perjalanan yang panjang dan manis.
Kemudian saya menulis.
Dan ini tulisannya:
Warna sering kali kita anggap sebagai sesuatu yang sederhana, sekadar pilihan estetika atau selera pribadi. Namun dalam perjalanan sejarah, warna memiliki makna sosial, budaya, bahkan politik yang terus berubah. Salah satu contoh paling menarik adalah warna pink. Hari ini, pink identik dengan perempuan, kelembutan, dan romantisme. Tetapi jika kita menengok ke masa lalu, kita akan menemukan kenyataan yang cukup mengejutkan: pink pernah dianggap sebagai warna yang sangat maskulin, bahkan identik dengan laki-laki bangsawan.
Pada abad ke-17 hingga ke-18 di Eropa, terutama di kalangan aristokrat, warna bukan hanya soal keindahan, tetapi juga simbol status sosial. Saat itu, kain berwarna cerah dan lembut seperti pink tidak mudah didapatkan. Proses pewarnaan tekstil membutuhkan bahan mahal dan teknik rumit. Karena itu, hanya kalangan elit yang mampu mengenakan pakaian berwarna mencolok, termasuk pink. Dalam konteks ini, pink menjadi lambang kemewahan, bukan kelemahan.
Menariknya, dalam pandangan masyarakat saat itu, pink dianggap sebagai turunan dari warna merah. Merah sendiri sudah lama diasosiasikan dengan kekuatan, keberanian, dan dominasi—sifat-sifat yang dilekatkan pada laki-laki. Karena pink adalah versi yang lebih ringan dari merah, maka warna ini dianggap cocok untuk laki-laki muda, termasuk anak-anak laki-laki dari keluarga bangsawan. Dalam banyak lukisan klasik Eropa, kita bisa melihat anak laki-laki mengenakan pakaian berwarna pink dengan penuh kebanggaan.
Di sisi lain, warna biru justru diasosiasikan dengan perempuan. Biru dianggap lebih lembut, tenang, dan penuh ketenangan spiritual. Bahkan dalam tradisi keagamaan Kristen, warna biru sering dikaitkan dengan kesucian dan digunakan dalam penggambaran tokoh perempuan suci. Ini menunjukkan bahwa pembagian warna berdasarkan gender yang kita kenal hari ini sebenarnya bukan sesuatu yang universal atau abadi.
Perubahan besar mulai terjadi pada awal abad ke-20. Industri pakaian anak-anak mulai berkembang pesat, dan perusahaan mulai mencoba mengkategorikan warna berdasarkan gender untuk kepentingan pemasaran. Namun, pada masa ini pun belum ada kesepakatan yang jelas. Beberapa katalog pakaian bahkan merekomendasikan pink untuk anak laki-laki dan biru untuk anak perempuan. Artinya, norma yang kita anggap “alami” hari ini sebenarnya masih sangat cair pada masa itu.
Baru sekitar tahun 1940-an, terjadi pergeseran besar dalam persepsi warna. Pink mulai diasosiasikan secara kuat dengan perempuan, sementara biru menjadi warna laki-laki. Pergeseran ini tidak terjadi secara alami, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk strategi pemasaran, perubahan budaya populer, dan pengaruh tokoh publik. Sejak saat itu, pink secara perlahan “dikunci” sebagai warna feminin dalam kesadaran masyarakat Barat, dan kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia melalui globalisasi.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, perubahan makna warna pink juga mencerminkan bagaimana masyarakat membentuk dan mengubah identitas gender. Apa yang dulu dianggap maskulin bisa berubah menjadi feminin, dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak hal yang kita anggap sebagai “kodrat” sebenarnya adalah konstruksi budaya yang dapat berubah seiring waktu.
Memasuki akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, warna pink kembali mengalami transformasi makna. Ia tidak lagi sekadar simbol feminitas tradisional, tetapi juga menjadi alat ekspresi dan bahkan perlawanan. Dalam berbagai gerakan sosial, pink digunakan untuk menantang stereotip gender dan memperjuangkan kesetaraan. Warna ini menjadi simbol bahwa identitas tidak harus dibatasi oleh norma lama.
Di sisi lain, dunia modern juga mulai lebih terbuka terhadap kebebasan berekspresi. Laki-laki mengenakan pink tidak lagi dianggap aneh, melainkan sebagai bagian dari gaya dan kepercayaan diri. Dalam dunia fashion, pink digunakan oleh siapa saja tanpa batasan yang kaku. Hal ini menunjukkan bahwa makna warna terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat.
Bagi kita, terutama dalam lingkungan pendidikan seperti pesantren, memahami sejarah warna seperti ini memberikan pelajaran penting. Bahwa banyak hal dalam kehidupan—termasuk simbol, budaya, dan kebiasaan—tidak selalu bersifat tetap. Mereka bisa berubah sesuai konteks zaman dan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, kita diajak untuk tidak mudah menghakimi sesuatu hanya berdasarkan persepsi yang berlaku saat ini.
Selain itu, sejarah warna pink juga mengajarkan tentang pentingnya melihat sesuatu secara lebih dalam. Apa yang tampak sederhana sering kali memiliki latar belakang yang kompleks. Dengan memahami sejarah, kita bisa menjadi lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan perubahan.
Pada akhirnya, warna pink bukanlah milik satu gender, kelompok, atau budaya tertentu. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia. Dari simbol kekuatan laki-laki bangsawan, menjadi ikon feminitas, hingga kini menjadi lambang kebebasan berekspresi—pink terus berubah, sebagaimana manusia dan masyarakat yang menggunakannya.
Maka, ketika kita melihat warna pink hari ini, kita tidak hanya melihat sebuah warna. Kita sedang melihat sejarah, budaya, dan perubahan zaman yang terjalin dalam satu spektrum yang lembut namun penuh makna.
Wallahu a’lam.