web analytics

Ketika Doa Menjadi Jembatan: Makna Haul bagi Umat

0 0
Read Time:2 Minute, 49 Second

Haul adalah suatu acara atau tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia, terutama dalam kalangan Nahdlatul Ulama. Tradisi ini bertujuan mengenang histori seorang tokoh agama, pendiri pesantren, ataupun guru spiritual yang pernah berjasa bagi masyarakat atau golongan tertentu.

Haul adalah kata yang berasal dari bahasa Arab (الحول) yang berarti setahun. Jika kita hanya melihat dari arti bahasanya, memang tidak terlihat unsur keagamaan sedikit pun. Akan tetapi, mengapa disebut haul? Karena dalam perayaannya masyarakat membuat acara untuk mengenang seseorang yang di-haulkan. Serta dalam praktiknya tidak selalu satu tahun sekali, karena perayaan tersebut tergantung pihak keluarga yang melaksanakan.

Bagaimana sejarah haul ini sendiri? Pertanyaan ini sering muncul di kalangan Nahdlatul Ulama. Menurut artikel yang penulis baca, dalam sejarahnya masih belum ada yang berani menulis secara pasti. Akan tetapi tradisi ini berakar dari kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang sering menziarahi makam para syuhada perang Uhud pada hari Senin.

Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Rasulullah berziarah ke makam syuhada (orang-orang yang mati syahid) dalam perang Uhud dan makam keluarga Baqi’. Beliau mengucap salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka kerjakan (HR Muslim).”

Tak hanya itu, dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa:

أن النبي ﷺ كان يأتي قبور الشهداء بأحد على رأس كل حول، فيقول: السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار

(Bahwasanya Nabi SAW mendatangi makam para syuhada di Uhud setiap awal tahun, lalu beliau mengucapkan: “Salam keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan tersebut.”)

Setelah memahami akar tradisi haul ini, mari kita berpindah pada penyebarannya. Awalnya berasal dari Hadramaut, Yaman. Di kawasan ini masyarakat Islam memiliki kelas-kelas tertentu seperti:

  1. Orang yang memiliki keturunan Nabi Muhammad SAW (disebut “Habaib”) atau yang tidak memiliki keturunan tetapi berada pada strata sosial paling tinggi
  2. Para masyaikh atau keturunan tokoh pemikir Islam yang tidak berhubungan dengan keturunan Nabi Muhammad SAW
  3. Qabail (anggota suku-suku terkemuka)
  4. Masakin (orang yang tidak memiliki harta, ilmu, maupun latar belakang keturunan)

Dari sinilah masyarakat Hadramaut — khususnya golongan pertama — memiliki peranan penting dalam masyarakat luas. Tidak hanya dari ilmu pengetahuan, tetapi juga dari segi keagamaan mereka sangat berpengaruh.

Karena itu para Habaib senantiasa melakukan haul untuk mengenang tokoh-tokoh penting pada masanya dan mengundang masyarakat. Bagi kalangan sosial menengah ataupun bawah, mereka meyakini bahwa dengan mendoakan para habib yang telah wafat ataupun bertawassul kepada mereka dapat menjadi perantara terkabulnya doa serta datangnya syafaat.

Kemudian pada abad ke-19 para Habaib tersebut memulai migrasi dan menyebarkan tradisi mereka di kawasan Asia Tenggara, dan pada abad ini menjadi puncaknya. Kisah mereka di Asia Tenggara berjalan mulus seolah tanpa halangan. Hal ini disebabkan karena mereka datang melalui jalur perdagangan sekaligus sebagai tokoh spiritual karena kedalaman ilmu agama.

Walaupun jarak antara kampung halaman dan Asia Tenggara sangat jauh, mereka tidak patah semangat menjalankan tradisi ini di tanah orang. Karena terkenal dalam kedalaman ilmu agama dan spiritual serta tradisi yang konsisten dilakukan, akhirnya hal itu mengukuhkan posisi mereka di tanah perantauan.

Akhirnya, setiap tradisi haul tidak hanya dilakukan oleh mereka, tetapi menyebar luas ke seluruh kaum spiritualis di Indonesia, terutama para kiai dan ulama pada waktu itu, bahkan yang tidak memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Hal ini terjadi untuk menjaga eksistensi pengaruh dan gagasan keagamaan di Indonesia serta sebagai pelajaran bagi orang yang mengikuti tradisi tersebut.

Itulah beberapa hal mengenai haul dan pelajaran yang dapat kita ambil di dalamnya. Terima kasih telah membaca.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
haulopini

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Meneladani KH. Muhammad Utsman Al Ishaqi

Meneladani KH. Muhammad Utsman Al Ishaqi

Relevansi Haornas di Lingkungan Pesantren

Relevansi Haornas di Lingkungan Pesantren

Reaktualisasi Iqra di Era Digital

Reaktualisasi Iqra di Era Digital

Hari Anak Nasional: Menyiapkan Generasi yang Sehat, Cerdas, dan Berakhlak

Hari Anak Nasional: Menyiapkan Generasi yang Sehat, Cerdas, dan Berakhlak

Refleksi Fomo dalam Kehidupan Santri; Dilema Ngabdi atau Cari Gaji

Refleksi Fomo dalam Kehidupan Santri; Dilema Ngabdi atau Cari Gaji

Indonesia Sang Zamrud Khatulistiwa

Indonesia Sang Zamrud Khatulistiwa