Setiap tahun, 9 September diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional (Haornas). Di luar pesantren, momentum ini mungkin identik dengan pertandingan, perlombaan, senam, atau berbagai kegiatan olahraga. Namun, di lingkungan pesantren, Haornas semestinya dapat dimaknai lebih jauh. Sebab, berbicara tentang olahraga bagi santri bukan semata-mata berbicara tentang siapa yang paling cepat berlari atau siapa yang paling kuat di lapangan. Ada sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana menjaga tubuh agar tetap mampu menjalankan tugas-tugas agama dan keilmuan.
Santri memiliki keseharian yang tidak ringan. Bangun sebelum matahari terbit, mengikuti salat berjamaah, mengaji, sekolah, menghafal, membaca kitab, mengikuti kegiatan pesantren, hingga kembali belajar pada malam hari. Aktivitas tersebut membutuhkan bukan hanya ketekunan pikiran, tetapi juga kesiapan tubuh. Sebab, bagaimana mungkin seseorang dapat belajar dengan baik jika tubuhnya terus-menerus dibiarkan lelah dan tidak terawat?
Dalam Islam, kesehatan jasmani bukan sesuatu yang berada di luar persoalan keagamaan. Nabi Muhammad Saw bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim).
Hadis ini sering dikutip ketika berbicara tentang kekuatan fisik. Namun, makna “kuat” dalam hadis tersebut tidak harus dipersempit hanya pada tubuh yang kuat. Para ulama menjelaskan bahwa kekuatan seorang mukmin dapat mencakup berbagai aspek yang mendukung kebaikan, seperti kekuatan iman, tekad, kemampuan, dan kesungguhan dalam menjalankan ketaatan.
Bagi santri, tubuh yang sehat adalah salah satu penopang untuk menjalankan semua itu. Kekuatan fisik bukan tujuan akhir, melainkan sarana. Seorang santri berolahraga bukan agar sekadar memiliki tubuh yang kuat, tetapi agar tubuh tersebut dapat digunakan untuk beribadah, belajar, bekerja, membantu orang lain, dan menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.
Karena itu, olahraga dan ibadah sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua dunia yang berbeda. Menjaga kebugaran dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang santri dalam memelihara amanah tubuh yang diberikan Allah Swt.
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah ayat 195).
Ayat tersebut memang berbicara dalam konteks yang lebih luas, sehingga tidak tepat jika langsung dianggap sebagai perintah olahraga. Namun, prinsip menjaga diri dari sesuatu yang membahayakan dapat menjadi pengingat bahwa seorang muslim tidak semestinya dengan sengaja mengabaikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
Pesantren dengan segala aktivitasnya membutuhkan santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual, tetapi juga memiliki tubuh yang cukup bugar untuk menjalani rutinitas. Mengaji berjam-jam membutuhkan stamina. Menghafal membutuhkan kondisi tubuh yang baik. Belajar hingga malam membutuhkan energi. Bahkan sekadar bangun tepat waktu untuk berjamaah membutuhkan tubuh yang tidak terus-menerus dipaksa tanpa perawatan.
Masalahnya, olahraga terkadang dianggap sebagai kegiatan tambahan. Jika ada waktu, dilakukan; jika sibuk, ditinggalkan. Padahal, justru karena santri memiliki banyak kegiatan, menjaga kebugaran menjadi semakin penting.
Olahraga tidak harus selalu berarti aktivitas yang berat. Berjalan kaki, bermain sepak bola, futsal, bulu tangkis, voli, berlari, melakukan peregangan, atau sekadar menyediakan waktu untuk bergerak secara rutin sudah menjadi langkah sederhana untuk menjaga kebugaran. Yang terpenting bukan seberapa spektakuler olahraganya, melainkan adanya kesadaran bahwa tubuh perlu dirawat.
Di sisi lain, olahraga di pesantren juga dapat menjadi ruang pendidikan karakter. Di lapangan, santri belajar bahwa tidak semua pertandingan berakhir dengan kemenangan. Ia belajar bekerja sama, menaati aturan, menghargai lawan, mengendalikan emosi, menerima kekalahan, dan tidak meremehkan orang lain. Nilai-nilai tersebut sebenarnya tidak jauh dari pendidikan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan pesantren.
Dengan demikian, lapangan olahraga bukan sekadar tempat untuk mengeluarkan keringat. Ia juga dapat menjadi ruang belajar.
Santri belajar tentang sportivitas ketika bertanding. Belajar tentang tanggung jawab ketika menjadi bagian dari tim. Belajar tentang kesabaran ketika menghadapi kekalahan. Belajar tentang kerendahan hati ketika memperoleh kemenangan. Bahkan belajar bahwa tubuh yang kuat tetap membutuhkan akhlak agar kekuatan tersebut tidak digunakan secara keliru.
Haornas dengan demikian tidak semestinya hanya menjadi momentum tahunan yang diramaikan dengan perlombaan, kemudian selesai ketika hadiah dibagikan. Ia dapat menjadi pengingat bagi pesantren bahwa pendidikan santri seharusnya memperhatikan manusia secara utuh: akalnya diasah, hatinya dibimbing, akhlaknya dibentuk, dan tubuhnya dirawat.
Sebab, seorang santri tidak hanya membutuhkan ilmu untuk menjalani kehidupan. Ia juga membutuhkan tubuh yang mampu menjadi kendaraan bagi ilmu tersebut.
Apa gunanya pengetahuan yang luas jika tubuh tidak cukup terawat untuk mengamalkannya? Apa gunanya semangat beribadah jika kesehatan terus diabaikan? Dan apa gunanya cita-cita besar jika sejak muda kita tidak belajar menjaga tubuh yang akan mengantarkan kita menuju cita-cita tersebut?
Pada akhirnya, Haornas di pesantren bukan sekadar tentang olahraga. Ia adalah tentang kesadaran merawat amanah. Tubuh bukan milik kita sepenuhnya untuk diperlakukan sesuka hati. Ia adalah titipan yang suatu hari akan dimintai pertanggungjawaban.
Maka, mari berolahraga bukan hanya untuk menjadi lebih kuat di lapangan, tetapi agar lebih kuat dalam menjalani kehidupan. Lebih kuat untuk bangun menunaikan salat, lebih kuat untuk duduk mengaji, lebih kuat untuk menghafal, lebih kuat untuk belajar, dan lebih kuat untuk mengabdi.
Sebab, menjadi santri yang kuat bukan berarti harus selalu menang dalam pertandingan. Menjadi kuat adalah ketika tubuh, pikiran, dan jiwa sama-sama dipersiapkan untuk menempuh jalan kebaikan.
Selamat Haornas. Rawat tubuh, kuatkan diri, dan gunakan kekuatan itu untuk beribadah serta menuntut ilmu.