Identitas Buku
| Nama Buku | : Kidung Cinta Syams Tabrizi-Maulana Rumi |
| Nama Penulis | : KH. Husein Muhammad |
| Kategori | : Islami |
| Genre | : Tasawuf |
| Tahun Terbit | : 2021 |
| Nama Penerbit | : Diva Press |
| Cetakan | : Kedua |
| Ukuran | : 14 x 20 cm |
| Jumlah Halaman | : 132 |
| Nomer ISBN | : 978-623-293-297-5 |
| Harga Buku | : Rp.55.000 |
Narasi
Alasan utama saya menyapa buku ini, ya karena sosok figur KH. Husein Muhammad, seorang kiai yang berhasil mengambil hati saya di beberapa tahun belakangan ini atas pemikiran dan tulisannya mengenai Islam, nasionalisme, feminisme, dan kepesantrenan.
Terlebih buku ini menyoal Jalaluddin Rumi dan cinta, sungguh tiada hal yang lebih mendebarkan untuk tak segera saya beli, baca, pahami, dan tulis di kemudian hari.
Meskipun dalam sudut hati saya saat first impression memegang-memandang cover buku ini sempat bersinggung, “Sedangkan siapa yang disebut sebagai Syams Tabrizi itu?”
Hingga pertanyaan bodoh itu terjawab dalam untaian kalimat pengantar buku ini.
Semua bermula di tahun 2004, saat Buya Husein sedang memenuhi undangan sebagai pembicara dalam seminar Internasional bertema “Kebebasan Beragama dan Kekerasan atas Nama Agama” di Turki selama 3 hari.
Selesainya kegiatan itu, beliau tidak langsung pulang ke Indonesia, malah menyempatkan diri untuk mengunjungi Konya, Anatolia, sebuah tempat hebat yang telah lama beliau damba. Sebagaimana diketahui, bahwa Konya memiliki 3 nama tokoh besar. Selain Maulana Jalaluddin ar Rumi sebagai tokoh tasawuf masyhur dengan konsep cinta ilahi, tari sufi, dan kitab masnawi-nya; ada sosok Syams Tabrizi yang—baru saya ketahui—merupakan gurunya ar Rumi, dan ada juga Syekh Shadruddin al-Qunawi sebagai anak tiri Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi dan teman ar-Rumi.
Dengan ditemani 2 mahasiswa S3 Indonesia, beliau mendatangi Konya, menyambangi para kekasih tersebut, berziarah, berdo’a, dan mentadabburi segala hikmah dan teladan Ar-Rumi, Syams Tabrizi, Syekh Shadruddin. Hhingga ditutup dengan sholat isya berjamaah di masjid dan oleh-oleh 6 jilid Masnawi.
Kisah ini berlanjut untuk waktu yang lain, untuk buku-buku yang lain: Qawa’id al-Isyaq al-Arba’un (40 Kaidah Cinta), Min Balkh ila Qanya (Dari Balkh ke Konya), Fihi Ma Fihi (Di dalamnya apa Yang ada di Dalamnya) yang didatangkan putri Buya dari Kairo, Mesir. Bahkan buku Al-Majalis al-Sab’ah, beliau menyempatkan menulis di sosial media dari buku-buku tersebut. Terutama perihal pandangan sufisme Syams at-Tabrizi dan Ar-Rumi. Rupanya para pembaca menyukai itu dan meminta tulisan-tulisan tersebut menjadi sebuah buku. Maka, jadilah buku ini.
Buku ini berisi tentang 40 kaidah cinta dan 30 petuah kearifan dari masing-masing Syams at-Tabrizi dan Ar-Rumi yang sarat akan makna. Di dalamnya juga berisikan sedikit kisah perjalanan beliau saat di Turki, juga turut mencantumkan biografi Syams at-Tabrizi dan Ar-Rumi.
Sebuah buku tipis yang padat.
Saya turut kutipkan beberapa kaidah dan petuah kearifan dalam buku ini yang dirasa sangat mengena.