Kalah dan Mengalah
2005. “Mah, Abang!” Adikku menangis seraya menunjuk-nunjukku. Tepatnya pada mainan robotku. Aku tau, ia menginginkannya. Tapi, aku juga lebih menginginkannya. Makanya tak kuberi. Biarlah ia menangis. Tak lama, Ibu datang karena tangisannya, Jamal, Adikku. Ibu memarahiku. Aku dimarahinya. Memang aku salah apa? Itu mainan yang kubeli dari hasil menabungku selama ini. jadi wajar saja apabila […]









