Saya tidak pernah menyangka, bahwa hari itu benar-benar tiba.
Bagi seorang pembaca buku, kebahagiaannya hanya sesederhana bisa dekat dengan buku itu sendiri. Itu hal yang biasa dan bisa dimaklumi.
Namun kebahagiaan itu bisa benar-benar menjadi luar biasa, saat si pembaca bertemu langsung dengan penulisnya: membuat semua buku bacaannya seketika menjadi hidup.
Lantas bagaimana cara menggambarkan bahagia itu dari sebuah pertemuan seorang pembaca buku yang kurus lagi rakus ini saat kenyataan membawanya untuk bertemu dengan sekaliber nama besar Ahmad Tohari?
Ah saya mengenggam hati ini erat-erat, takut tiba-tiba meledak dan sekarat.
Dalam sebuah misi jurnalistik, dari sekian nama besar, nama Pak Ahmad Tohari disepakati forum sebagai orang yang dipercayai dapat mengatasi tema besar “Sastra Pesantren dan Polemik Literasi” untuk majalah pondok kami.
Sangat tepat rasanya bahwa beliau adalah seorang penulis, jurnalis, sastrawan, yang terlahir dari rahim pondok pesantren.
Di tengah segala tuntutan kerja dan romantisasi pertemuan itu, dari Pak Tohari, saya belajar tentang arti kesederhanaan.
Saya tidak pernah menyangka, pun tak tau alasan dan prinsip apa yang beliau anut, bahwa beliau bisa sesederhana itu.
Berpakaian apa adanya: berkopeah hitam yang tidak sepenuhnya lurus, kaos berkerah, celana bahan polos, dan sandal jepit yang sebenar-benarnya sandal jepit; swallow, yang cukup dibilang lusuh.
Pun dalam sholat jama’ah yang saya tekuni dari mushola di sana, beliau berdiri sholat di shaf jama’ah tanpa kukuh untuk menjadi imam, tetap dengan style pakaian sederhananya.
Dan sangat sulit ditemukan seorang tokoh yang terlahir dan hidup dalam keluarga pondok pesantren, alih-alih dipanggil “Kiai”, beliau justru memilih hanya cukup dipanggil “Pak” sebagaimana lelaki pada umumnya.
Padahal umurnya sudah menginjak 78 tahun dengan segala keluasan ilmunya.
Hal lain yang tak kalah membuat saya terkagum-kagum, bahwa Pak Tohari sama sekali tidak terdistraksi dengan hiruk pikuk carut marut media sosial. Beliau lebih memilih setiap pada hp tulalit sebagai sarana komunikasi.
Ada senyum yang tak bisa diutarakan, saat saya harus mengisi pulsa reguler untuk menyampaikan permohonan tujuan kepada beliau, melalui sms dan telpon seluler.
Namun dengan itu bukan berarti beliau tutup mata dengan isu dan perwajahan berita saat ini. Pada suatu pagi selepas bermalam, mata saya sendu pada seorang lelaki yang terduduk di teras dengan tangannya yang membuka koran dengan syahdu.
Pak Tohari di sana, seorang penulis tetap menjalankan ritual membacanya.
Ada haru yang bersarang.
Ada malu yang menyerang.
Campur aduk.
Bicara soal bermalam di sebelumnya, selain menyambut degan hangat ramah senyuman, menyuguhkan makanan minuman, juga mengiyakan konsep wawancara yang berlangsung panjang, menawarkan penginapan merupakan salah satu bentuk kedermawanan Pak Tohari.
Alih-alih penawaran itu berakhir menjadi keharusan.
Hal yang menarik adalah, bahwa pada momen itu salah satu impian saya akhirnya bisa terwujud. Sebagaimana hubungan seorang pembaca dengan bukunya, saya pernah memimpikan sebuah kehidupan di negeri dongeng yang penuh dengan buku-buku.
Lantas hal apa yang lebih meninabobokan selain hidup dalam toko buku dan perpustakaan?
Hingga malam itu, keputusan Pak Tohari, kami ditempatkan bermalam dan menginap di perpustakaan beliau!
Ya, perpustakaan yang menamai dirinya “Rumah Sastra Ahmad Tohari” itu!
Oh, adakah do’a paling merdu yang bisa saya lantunkan di sebelum terpejam dan kembali ke peraduan?
Biar saya ceritakan teriakan hati ini atas bahagia dan perlawanan terhadap kantuk kala itu:
Malam membawa saya pada hening menerawang remang ruang itu, dari karpet tebal yang tergelar, dari beberapa sejawat yang tergeletak tumbang lebih dulu, saya menikmati romantisasi dari setiap sudut perpustakaan itu.
Baris rapih banyak tumpuk buku-buku di rak-rak itu, melihat ke arah saya, turut menyapa: cantik dan mempesona sekali.
Hingga para pembesar di ruang itu: semua judul buku karya Pak Tohari dari segala lintas waktu, penerbit, dan bahasa, terpampang di frame dinding khusus, dengan cahaya khusus: gagah sekali.
Semua baris sertifikat dan piagam, serta vandel dan plakat, piala dan figura penghargaan pun rasanya setuju.
Sampai pada sesi panjang wawancara, saya tergugah untuk 3 poin pertanyaan yang Pak Tohari jawab sederhana, tapi tetap tajam dan menghujam.
Sastra Pesantren
“Berarti sastra yang menuju kepada tauhid.”
Muatan tulisan dan bacaan yang mengandung unsur agama dengan segala estetikanya. Tidak jarang, hal ini sangat berguna sebagai opsi yang paling diminati dalam misi dakwah.
Polemik Literasi
“Akar masalahnya sangat pasti, kita ini tidak diwariskan tradisi membaca oleh nenek moyang. Tradisi lisan-lah yang turun-temurun tumbuh subur dalam benak masyarakat.”
Justru kebiasaan, budayalah yang sangat bertanggung jawab atas hal ini. Dibanding lisan, literasi tidak tumbuh dari tulisan. Hingga minimnya tulisan berdampak pada minimnya bacaan: menjadi lingkaran setan runtuhnya pendidikan.
Hingga solusi atas itu, Pak Tohari menyampaikan jawaban yang tidak pernah saya kira. Alih-alih menimpakan kemarahan pada hal ekternal, beliau justru menjawab:
“Kitalah yang bertanggung jawab atas masalah ini. Semuanya harus dimulai dari diri sendiri. Mulailah membaca, menulis, syukur-syukur kalau sampai bisa andil pada orang banyak seperti membangun komunitas atau perpustakaan.”
Dengan itu lantas logis dan bijak, bahwa masalah ini bisa diselesaikan dengan menyeluruh tanpa menghabiskan energi untuk marah saling menyalahkan.
Mendidik Anak
“Kami—saya dan istri—selalu menjaga kehalalan makanan yang dimakan anak-anak. Perkara syubhat tidak boleh masuk dalam perut anak-anak, kami jaga dengan keras.”
Itu salah satu kunci sukses Pak Tohari mendidik anak-anaknya yang bergelar Pendidikan tinggi.
“Santri sebagai pelajar. Istiqomah sebagai santri. Artinya harus terus-menerus belajar seumur hidup tidak mengenal usia,” pesan Pak Tohari terakhir, sampai kami berpamitan berterima kasih.