web analytics

Getah-Getih menuju Bumi Pertiwi

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:4 Minute, 38 Second

Kalau berbincang-bincang seputar sejarah Indonesia pasti membuat saya berpikir menyelami Bumi Pertiwi. Berawal dari perspektif Belanda (Neerlando-sentris) menuju perspektif kebangsaan (Indonesia-sentris) yang menjadikan bangsa Indonesia sebagai subjek utama.

Seminar Sejarah Nasional 1 di Yogyakarta pada 14 Desember 1957 atau yang kini kita rayakan sebagai Hari Sejarah Nasional telah menjadi tonggak penting dalam penyusunan sejarah Indonesia. Sayangnya, sebagai simbol semangat nasionalisme, membuat penulisan sejarah tersebut kurang murni atau bersifat subjektif.

Sejarah ditulis oleh pemenang.

Kalimat tersebut mungkin telah sering berdengung di sekitar telinga kita. Dengan posisi sebagai korban jajahan yang berhasil menghalau penjajah, bangs akita tentulah sebagai pemenang. Hal tersebut pasti berpengaruh terhadap penulisan sejarah yang kini beterbangan dalam dunia pendidikan melalui buku paket atau LKS.

Adalah terbesit sedikit pikiran jikalau bangsa kita melebih-lebihkan penderitaan dengan penulisan yang subjektif, sehingga membuat mereka menafikan hal-hal yang fakta. Meski hal tersebut baik untuk membakar semangat nasionalisme muda-mudi lugu, nyatanya yang sebenarnya dibutuhkan adalah sejarah yang objektif. Lagi pula mana ada kebohongan yang baik? Mungkin kebohongan mulia bisalah kita anggap baik, meski tak bisa selamanya dipakai.

Oleh karena itu, marilah kita bahas beberapa fakta-fakta sejarah Indonesia baik itu kebohongan atau ketidaktahuan. Mulai dari Sang Saka Getah-Getih hingga Bumi Pertiwi berani berdiri.

Sang Saka Getah-Getih

Peristiwa heroik perobekan bendera di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) pada 19 September 1945 berhasil meninggikan semangat nasionalisme pejuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia kala itu. Memaksa Bumi Pertiwi berani berdiri. Sang Saka Merah-Putih, namanya.

Tapi mari kita melihat lebih jauh kebelakang. Abad ke-13, di mana Kerajaan Majapahit sedang berdiri gagah dengan bendera Sang Saka Getah-Getih Samudra yang juga berkibar dengan lantang. Kerajaan Majapahit berhasil menyatukan Nusantara atas jasa Sumpah Palapa yang digaungkan Gadjah Mada, serta Sri Rajasanagara Hayam Wuruk sebagai raja yang membawa masa keemasan Majapahit di abad 14.

Sang Saka Getih-Getah Samudra atau Sang Saka Gula Kelapa, berupa sembilan garis horizontal merah dan putih (lima merah, empat putih) yang melambangkan kejayaan maritim dan persatuan Nusantara. Tak hanya itu, Sang Saka Getah-Getih juga menjadi inspirasi utama bagi bendera Merah-Putih Indonesia, dan masih dipakai TNI-AL sebagai “Ular-Ular Perang”.

“Ular-ular perang” adalah sebutan untuk bendera maritim TNI Angkatan Laut (AL) yang berbentuk garis-garis merah dan putih horizontal, melambangkan wilayah Nusantara dari sumpah Amukti Palapa, dikibarkan di kapal perang (KRI) sebagai tanda status aktif, dan diturunkan saat kapal pensiun.

Sang Saka Getah-Getih Samudra yang konon sebagai nenek moyang Sang Saka Merah Putih, pertama kali dikibarkan oleh Raden Wijaya ketika melawan pasukan Mongol sekitar tahun 1292 yang mengantarkan pada berdirinya Majapahit. Kemudian menjadi panji kebanggaan kerajaan yang digunakan sejak 1294 Masehi.

Simbol 350 Tahun dan VOC

Tiga ratus lima puluh tahun masa penjajahan memanglah sering kita dengar. Tak ayal banyak pula kita dengar bahwa hal tersebut hanyalah simbol yang dilebih-lebihkan oleh Soekarno dalam beberapa pidatonya.

Tidak salah memang jika kita menganggap 350 tahun hanya sebagai simbol untuk membakar semangat nasionalisme kala itu. Mengingat angka tersebut dimulai dari tahun 1946, yang pada saat itu Banten kedatangan seorang pedagang dari Belanda bernama Cornelis de Houtman.

Hal tersebut juga menyangkut VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Didirikan secara resmi setelah para pedagang Belanda tiba di Banten, tepatnya tahun 1602 untuk mengakhiri persaingan dagang antar pedagang Belanda, sehingga pemerintah Belanda menyatukan kongsi-kongsi dagang menjadi satu perusahaan besar.

Also Read: Sejarah Kertas

Perusahaan yang menjadi “negara dalam negara”. Memiliki tentara, bisa mencetak uang, berperang, dan bernegoisasi seperti negara membikin VOC berhasil menguasai perdagangan dan wilayah, juga berpengaruh dalam pembentukan awal kolonialisme dan kapitalisme modern dengan kekuatan politik dan ekonomi.

Untungnya, pada tahun 1968, seorang ahli hukum, Gertrudes Johannes Resink, berhasil mematahkan mitos penjajahan selama 350 tahun. Resink memaparkan hal tersebut dalam karyanya Indonesia’s History Between the Myths. Essays in Legal History and Historical Theory (1968).

Selama proses pembedahan, dia mengetahui banyak kerajaan dan wilayah Indonesia yang belum pernah ditaklukkan Belanda sampai tahun 1900-an. seperti, Aceh yang baru dikalahkan pada 1903, Bone 1905, dan Klungkung (Bali) pada 1908. Dari sini Resink menarik kesimpulan bahwa tidak ada wilayah di Indonesia yang benar-benar dijajah selama 350 tahun. Jika melihat pendudukan di Klungkung, Bali, maka Belanda baru menjajah Indonesia selama 37 tahun.

Daendles tidak Begitu Mulia

Siapa yang tidak tahu tentang jalan berjuluk Daendles Anyer-Panarukan? Atau biasa dikenal dengan Jalan Raya Pos yang membentang dari ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Jalan yang memakan banyak korban jiwa para pribumi yang bekerja rodi.

Herman Willem Daendles, seorang perwira militer Belanda dan administrator colonial yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811). Pada masa jabatannya, ia menggagas megaproyek infrastruktur di Pulau Jawa yang membentang sejauh 1.000 km dari Anyer ke Panarukan dengan tujuan mempercepat dan melancarkan transportasi militer, logistik, dan komunikasi.

Meski dikenal sebagai seorang yang kejam karena memperbudak pribumi, tak banyak orang yang berpendapat bahwa Daendles sebenarnya memberikan upah kepada bupati setempat untuk menggaji para pribumi. Dengan dokumen-dokumen penyerahan upah sebesar tiga puluh ribu ringgit (sekarang sekitar 120 juta rupiah, tentu zaman dulu udah banyak banget nominalnya) untuk mandor, pekerja, alat, juga konsumsi, para orang seolah langsung mengagungkan Daendles.

Adanya kerja paksa atau kerja rodi dari sejarah memanglah tidak bisa dikesampingkan, dikarenakan kondisi keuangan colonial yang saat itu sedang memburuk yang membuat Daendles hanya memberi upah ke Sebagian dan tidak semua.

Narasi-narasi yang seolah mengagungkan Daendles kiranya tak perlu digaungkan jika hanya untuk menjatuhkan pribumi. Karena keduanya sama-sama kejam. Mana yang benar? Wallahu a’lam.

Ketika belajar sejarah cobalah membedakan antara story, history, dan misteri agar dapat mencerna baik-baik sebelum menggaungkannya. Lagi pun bangsa yang maju tidak berpikir dengan logika mistika.

Wallahu a’lam.

 

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Hermeneutika dan Penafsiran Al-Qur’an

Hermeneutika dan Penafsiran Al-Qur’an

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Lingkungan

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Lingkungan

Surabaya 10 November: Api Perlawanan dari Kota Pahlawan

Surabaya 10 November: Api Perlawanan dari Kota Pahlawan

Peran Pesantren Terhadap Generasi Bangsa

Peran Pesantren Terhadap Generasi Bangsa

Sejarah Kertas

Sejarah Kertas

Dari Ninja ke Dukun, Dari Yai Imam ke Gus Maksum

Dari Ninja ke Dukun, Dari Yai Imam ke Gus Maksum