web analytics

Pulang

0 0
Read Time:3 Minute, 7 Second

“Uangnya pas, terimakasih Pak.” Aku menyerahkan lembaran uang pada supir taksi yang telah mengantarkanku dari bandara. Ia mengangguk, kemudian menutup jendela mobil. Aku menarik koperku melalui sebuah gapura memeasuki gang bersamaan dengan mobil taksi yang menjauh.

“Gradak…gradak,” roda koperku sangat berisik bergesekan dengan jalan kavling tak bisa kucegah. Mau diangkatpun isinya terlalu berat. Disepanjang jalan kecil ini aku berpapasan dengan segerombolan anak kecil yang asik bermain. Raut bahagianya membuatku rindu masa kecil, dimana hidup rasanya hanya tentang main dan main.

Rumah disini saling bertempelan satu sama lain, dan ukurannya pun tidak besar bahkan bias dibilang kecil untuk satu keluarga inti. Aku melemparkan senyum pada ibu-ibu dipinggir gang yang tengah berhenti berbincang bincang sejak suara koperku terdengar di telinga mereka. “mari, bu”

Aku hirup udara dalam-dalam, bau khas dari selokan kecil yang mengalir sepanjang jalan menyengat mengganggu indra penciuman. Kondisi kampung kumuh ini tak cukup kuat menghalangiku untuk pulang, dulu aku sudah terbiasa dengan ini semua. Hingga sampailah aku di sebuah rumah. Saat hendak membuka pagar, tanganku otomatis menepuk-nepuk seragam hijau yang melekat di tubuh, enggan apabila ada debu yang hinggap. Aku harus terlihat rapi.

“Assalamualaikum” Pagarnya tidak dikunci, aku langsung masuk dan duduk di kursi yang ada di teras rumah. Jam di tangan telah menunjukkan pukul dua siang. Biasanya setelah ini ibu pulang dari berjualan di pasar. Aku tidak biasa masuk sebab pintunya dikunci. Tak apa, kuputuskan untuk menunggu disini.

Rumah ini punya halaman yang sempit. Lebarnya hanya tiga langkah dari pagar ke pintu utama. Tapi tampak lega, sebab ibu tidak hobi meletakkan barang apapun disana. Hanya beberapa pot tanaman yang ditata di pinggiran. Warna-warni bunganya menjadi pemandangan sehari-hari ibu sekaligus teman yang menemaninya sejak bapak meninggal.

Hanya aku yang satu-satunya ibu punya, yang selalu menjadi beban semakin beranjak dewasa. Tapi kasih sayangnya tidak pernah kadaluwarsa. Ijazah tidak sampai SMA, namun kerja kerasnya mampu mengantarku menjadi abdi negara.

Also Read: Keranjang

Tahun ini aku tidak mengabari ibu kapan hari pulangku, tapi ibu sepertinya sudah hafal adat. Meski begitu, aku tetap ingin memberi kejutan di hari ulang tahunnya.

Tak terasa angin sudah berhembus tiga puluh menit, tapi ibu tidak kunjung datang. Kantukku parah tak bisa ditolak, sehingga aku menyamankan posisi dudukku serta melipat tangan di dada. Aku harap ibu segera datang….

“Nak…nak….” Aku mengerjap, sempurna membuka mata setelah beberapa saat. Orang di depanku berhenti menepuk-nepuk bahuku. Bukan ibu, melainkan seorang bapak yang aku tidak mengenalinya. “Sedang apa disini?” tanyanya. Tatapannya itu aku tidak suka, seolah aku salah.

“Saya menunggu ibu pulang. Saya Romli, anak Ibu Harina.” Bapak tua itu hanya menghela nafas. Aku bangun dari tempat.

“Lho, apa-apaan ini?” aku tak berkedip melihat tempat yang ku pakai tidur barusan sudah berubah total. Tidak ada kursi, hanya ada lantai penuh debu yang mengotori pakaianku.

Aku mengernyit, berusaha menelaah kejadian yang sedang ku alami. Bagaimana bisa rumah yang kulihat tadi menjadi latar dengan tanah, bahkan terlihat sudah lama ditinggalkan. Aku berjalan mengitari setiap sudut.

“Demi Allah Pak, tadi rumah ini masih utuh. Apa yang barusan terjadi?” bapak itu hanya menggeleng.

Percuma aku bertanya ia tidak membantu. Celotehan-celotehanku barusan sepertinya mengundang beberapa tetangga untuk mendekat. Bagus, sekarang kepalaku yang pening. Ingin mengadu pada ibu rasanya agar ia tiba-tiba datang dan menarikku keluar dari gerombolan orang-orang yang menatapku aneh ini.

Aku hanya duduk dan menenggelamkan kepalaku di lutut. Mataku memang sudah tak melihat orang-orang. Namun telingaku, walau sudah kututup rapat-rapat, tetap bisa mendengar apa yang bisa mereka katakan.

Also Read: Kukira Ada

“Itu Romlikan? Sudah kali beberapa ia datang kesini?”

“Bukannya ia sudah tau Bu Har sudah tidak ada?”

Aku mendongak. Si bapak tua tadi sudah berada di depanku. Bukan tatapan seperti tadi, tapi lebih bersahabat dan menyimpan makna mendalam.

“Ikhlaskan, Rom.” Ia menepuk bahuku.

Dan sore itu tangisku pecah.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
cerpenelmahrusy ID

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Kerajaanku yang Malang (Pt4)

Keranjang

Keranjang

Gayung adalah Renung

Gayung adalah Renung

Kerajaanku yang Malang (pt3)

Kerajaanku yang Malang (pt3)

Kukira Ada

Kukira Ada

Tekadku Setinggi Angkasa

Tekadku Setinggi Angkasa