Kediri, Elmahrusy Media.
Partai final Mahrusy Cup 2026 akhirnya digelar pada Minggu (15/02). Sebuah partai yang mempertemukan tim-tim bermental baja yang telah berhasil menumbangkan lawan-lawannya di setiap babak yang ada untuk segera menatap partai puncak dan memperebutkan gelar juara.
Dzubayyinah akan menghadapi Ibnu Kholdun.
Pertandingan yang digelar di waktu sore itu dibuka dengan pertandingan big match seru yang mempertemukan Tim Pengurus Mahrusiyah Lirboyo dan Tim Pengurus Mahrusiyah Ngampel. Sebuah pertandingan yang dimainkan oleh para pemain senior itu nyatanya memberikan sebuah tontonan adu strategi dan skill yang mumpuni dan mengesankan.
Permainan yang solid dan ciamik, pengalaman bermain mereka tidak bisa dipungkiri untuk sepak bola yang padu. Pertandingan bukan hanya perihal sepakan keras untuk seberapa cepat dan banyak mencetak gol. Bagi mereka, sepak bola juga merupakan soal kerapihan dan kedisiplinan dari kaki ke kaki. Big match itu dimenangkan oleh Tim Pengurus Mahrusiyah Lirboyo dengan skor 1-0.
Sampai pada akhirnya, semua mata tertuju pada pertandingan yang paling ditunggu, sebuah pertandingan yang akan menjawab perihal siapa petarung yang berhasil merebut mahkota untuk dipasangkan di atas kepalanya sebagai Sang Raja; Sang Juara.
Sejak ditiupnya peluit tanda dimulainya pertandingan, masing-masing tim langsung memberikan perlawanan yang intensif. Saling menyerang, menekan, dan bertahan. Setiap pemain memberikan peforma terbaiknya dengan tugas di posisinya masing-masing. Deras hujan menjadi saksi kerja keras mereka.
Di sisi lain juga terlihat dari riuhnya suporter yang berdiri, bernyanyi, meneriakan semangat guna membangun mentalitas dan daya juang para pemain yang sedang berlaga. Berbagai macam nyanyian, tabuhan, hingga koreo pun ditampilkan dengan begitu megah dan militan. Menandakan bahwa mereka berharap dengan penuh, mendukung tanpa jenuh.
Menariknya dalam pertandingan ini, dari masing-masing tim yang ada juga turut memainkan skema yang memukau. Dari barisan para official yang terlihta fokus dan serius, berusaha menerapkan strategi transisi; bagaimana ketika tim sedang menyerang, bagaimana ketika tim harus bertahan.
Hingga pada akhirnya, berkat permainan yang rapih lagi ciamik, sebuah tendangan berhasil dilesatkan dan menggetarkan gawang Dzubayyinah. Gol 0-1 bertahan hingga turun minum.
Melihat bahwa mereka tertinggal, Dzubayyinah tidak mau ambil resiko. Di babak kedua, mereka bermain dengan mati-matian. Meningkatkan arah serangan, mengambil sepenuhnya penguasaan bola, mengunci pertahanan lawan, hingga peluang-peluang serangan. Namun sayang, dari berbagai percobaan serangan yang brilian dan mengancam, penjaga gawang Ibnu Kholdun lebih cemerlang dan kokoh. Tidak ada satu pun peluang yang dibiarkan masuk begitu saja untuk menggetarkan gawangnya.
Waktu terus berjalan.
Kian dekat.
Hampir habis.
Para suporter telah menyalakan riuh flare: mereka siap menyambut Sang Juara.
Benar-benar di ujung waktu, laga itu tiba-tiba terhenyak hening, sebelum akhirnya seisi stadion itu meledak oleh sebuah crossing dari tendangan corner yang disambut ujung kaki untuk melesat, merobek pojok kanan gawang: Dzubayyinah berhasil menyamai kedudukan dengan penuh kerja keras yang dramatis.
Skor akhir bertahan dengan 1-1.
Pertandingan benar-benar seru dan menegangkan. Kedua tim benar-benar menolak untuk kalah. Kerja keras tim, juga semangat membara dari para supporter benar-benar membuat laga final ini menjadi arena hidup dan mati.
Babak perpanjangan waktu diberikan. Sisa hujan masih cukup dominan membasahi segala sudut lapangan. Dengan itu sama sekali tidak mengurangi intensias serangan, pun suporter yang enggan untuk beranjak meski hanya sekedar mencari tempat teduh. Pertandingan masih berjalan dengan sangat sengitnya.
Hingga nyatanya, 20 menit waktu perpanjangan waktu yang diberikan sama sekali tidak mengubah papan skor dan babak adu penalti pun harus dilangsungkan. Dzubayyinah akan mengambil tendangan lebih dulu.
Penendang pertama bersiap, bola ditendang, dan tertepis.
Seisi stadion bergemuruh. Kualitas dari kiper Ibnu Kholdun benar-benar tidak bisa diremehkan. Tekanan mental datang lebih awal bagi Dzubayyinah. Tertutama saat penendang pertama dari Ibnu Kholdun dapat menyelesaikan tendangannya dengan baik.
Hingga di pertengahan, para pemain lain yang bertugas, penalti itu benar-benar meneggangkan dengan tendangan-tendangan yang tertahan kiper atau melenceng jauh dari mistar gawang. Sorak sorai tumpah riuh.
Laga kian mendebarkan.
Tak kalah dari awal, penendang akhir pun tak kalah seru dan menegangkan. Tepat saat penendang kelima Dzubayyinah lagi-lagi harus gagal mengeksekusi dengan baik sehingga bola melenceng di pojok kiri bawah gawang.
Dengan itu, laga ditentukan oleh penendang kelima Ibnu Kholdun, jika saja ia berhasil menyelesaikan tendangan penalti ini dengan baik, maka otomatis gelar juara akan diraih oleh Ibnu Kholdun.
Semua mata tertuju.
Riuh mereda.
Semua menunggu, bersiap.
Ancang-acang dilakukan, tendangan keras disepak: bola tetap merengsek masuk ke gawang meski sempat tertepis.
Gol!
Ibnu Kholdun memastikan gelar juaranya dengan kemenangan atas Dzubayyinah dalam babak adu penalty dengan skor 2-3.
Para supporter tumpah ruah memasuki lapangan, berteriak, mengekspresikan kebahagiaannya untuk tim yang mereka dukung. Ucapan selamat, ucapan rasa bangga dan terima kasih. Juga para supporter lawan yang menyampaikan rasa hormatnya, atau mereka yang masih terkesan tak percaya atas laga yang begitu epic dan heroik ini.
Diucapkan selamat kepada Ibnu Kholdun atas gelar juaranya dalam Mahrusy Cup 2026.
Juga diucapkan semangat kepada Dzubayyinah yang telah berjuang sampai bisa menembus partai final.
Selepas itu, pembacaan penghargaan-penghargaan. Mulai dari top skor, best player, best kiper, juga runner up, dan kategori lainnya.
Wallahu a’lam.