Sebagai umat muslim yang berbahagia ketika menyambut pun menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, pasti kita tahu jika salah satu rukun puasa adalah meninggalkan segala perkara yang dapat membatalkan puasa. Di Indonesia sendiri kita berpuasa selama 13-14 jam dalam sehari.
Bayangkan! Kita meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa selama 13-14 jam sambil melawan suhu panas dan kelembapan tinggi sehingga dapat membuat dehidrasi, sedangkan di belahan bumi lain ada yang berpuasa hanya dengan 1 sampai 2 jam saja dalam sehari, bahkan adapula yang hampir menyentuh 18 jam berpuasa dalam sehari.
Tradisi bulan Ramadhan di berbagai belahan dunia tentu berbeda-beda, mulai dari membangunkan sahur sampai mencari uang saku dari rumah ke rumah. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini mari kita berkeliling dunia bersama untuk menengok serba-serbi tradisi bulan Ramadhan dari masing-masing belahan dunia.
Durasi Puasa
Seperti yang kita tahu, bumi bulat seperti bola pingpong yang dijual mamang tukang bakso. Oleh karena itu setiap negara memiliki waktu puasa yang berbeda berdasarkan letak geografis, kemiringan sumbu, juga rotasi serta revolusi bumi memengaruhi panjang siang dan malam.
Oleh karena itu, hal ini dapat melahirkan sebuah fenomena polar night (fenomena yang menyebabkan wilayah lingkar kutub utara/selatan tidak mendapat sinar matahari selama lebih dari 24 jam hingga berbulan-bulan saat musim dingin). Fenomena tersebut memiliki andil besar terhadap durasi puasa di masing-masing negara.
Fenomena yang terjadi sebab kemiringan bumi mencapai ini menjadi alasan mengapa pada sebuah negara bisa berpuasa selama hampir 23 jam atau malah hanya 1 sampai 2 jam saja. Seperti contoh fenomena polar night yang terjadi di kota Murmansk, Rusia, saat musim dingin yang menyebabkan puasa hanya berdurasi 1 jam. Padahal anak kecil saja puasanya setengah hari.
Adapun fenomena Ramadhan di Finlandia yang tidak punya malam. Berbanding terbalik dengan polar night yaitu suatu peristiwa bernama midnight sun. Peristiwa ini ditandai dengan matahari yang selalu terlihat di atas cakrawala kala musim panas. Membuat siang hari terasa lebih panjang. Jadi, durasi puasa di wilayah kutub utara dan selatan dapat berubah-ubah tergantung pada peristiwa polar night atau midnight sun yang menerpa wilayah tersebut.
Membangunkan Sahur
Keliling sambil berisik membawa kentongan beramai-ramai juga berteriak-teriak pakai toa masjid merupakan tradisi yang ada di Indonesia. Tanpa kita sadari, membangunkan sahur sudahlah ada sejak zaman Rasulullah, tepatnya ketika Bilal bin Rabah yang mengumandangkan adzan supaya masyarakat sekitar segera bangun untuk sahur. Tradisi ini berkembang sampai Mesir yang membangunkan sahur sambil berkeliling kota dengan berjalan kaki. Tentu tradisi-tradisi ini berawal sejak masuknya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh Walisongo, kemudian diadaptasi dengan kearifan lokal.
Timur Tengah menjadi bagian dunia yang paling kaya jika membahas seputar tradisi membangunkan sahur. Di Palestina, Bahrain, dan Mesir, ada tradisi Mesaharati, yaitu berkeliling menabuh drum sambil menyanyikan lagu religi dan memanggil warga untuk sahur. Sedangkan di Turki lebih dari dua ribu penabuh drum berkeliling menjelang fajar untuk membangunkan warga, sebuah tradisi yang dihormati dan didukung pemerintah.
Adapun suatu tradisi dari Maroko bernama Nafar, petugas mengenakan pakaian tradisional (sering kali Gandora, topi, dan sandal) berkeliling meniup terompet atau menabuh drum untuk membangunkan warga. Di kota-kota seperti Delhi, India, kelompok Seheriwalas berkeliling sejak pukul 02.30, meneriakkan nama Allah dan Nabi, serta mengetuk pintu rumah warga. Tradisi-tradisi ini tetap terjaga untuk mempertahankan suasana Ramadhan yang khas dan kekeluargaan.
Hingga masa-masa khidmat dan syahdu selama bulan suci Ramadhan, dengan berbagai budaya dan tradisi yang mendukung ibadah kita terutama puasa, sampailah pada hari kemenangan di Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri yang sering kita sebut sebagai lebaran itu, selain khidmat dan syahdu, momen itu tentu mempunyai sisi semarak dan meriahnya sendiri.
Mari kita kembali menjelajah dunia untuk mengenal budaya dan tradisi lebaran di setiap negaranya!
Lebaran Idul Fitri
Kalau di Indonesia kita sambut dengan pakai baju baru, pulang kampung atau mudik, sungkeman, hingga kupatan, di luar negeri juga punya cara mereka masing-masing dalam merayakan hari raya Idul Fitri.
Di Turki Idul Fitri dikenal sebagai Şeker Bayramı (Festival Gula/Manisan) karena makanan manis wajib disajikan. Anak-anak mengenakan baju khusus (Bayramlik) dan mencium tangan orang tua sebagai tanda hormat untuk mendapatkan uang koin atau permen.
Di India, malam sebelum lebaran disebut Chaand Raat (malam bulan), ditandai dengan pasar yang ramai, berbelanja baju baru, dan memakai henna (mehndi) di tangan. Afghanistan pun memiliki tradisi yang unik dalam merayakan hari raya Idul Fitri, yaitu Tokhm Jangi atau adu telur rebus, yang menjadi perlombaan memecahkan telur lawan sebagai simbol kegembiraan.
Serba-serbi tradisi pada bulan Ramadhan penuh akan warna, oleh karena itu janganlah bosan ketika Ramadhan mendatangimu. Berbahagia dan meningkatkan kualitas ibadah serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan tindakan yang harus kita lakukan. Jangan pula hanya beribadah saat bulan Ramadhan.
Wallahu a’lam.