web analytics

Resensi Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an

0 0
Read Time:6 Minute, 29 Second

Di antara sekian banyak karya ulama klasik yang membahas Al-Qur’an, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menempati posisi istimewa. Kitab yang diajikan oleh KH. Melvien Zainul Asyiqien di setiap ba’da ashar bulan Ramadhan ini bukan sekadar membahas hukum tajwid atau kaidah qira’ah, melainkan mengupas secara mendalam adab dan etika para pembawa Al-Qur’an, yakni orang-orang yang membaca, menghafal, mengajarkan, serta mengamalkan kitab suci tersebut. Dalam tradisi Islam, ilmu tanpa adab dipandang sebagai sesuatu yang pincang. Karena itu, kitab ini hadir sebagai panduan rohani dan moral bagi siapa saja yang ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupannya.

Kitab ini ditulis oleh Imam an-Nawawi, seorang ulama besar mazhab Syafi’i abad ke-7 Hijriah yang dikenal dengan kedalaman ilmunya, kezuhudan hidupnya, serta keikhlasannya dalam berdakwah dan menulis. Karya-karyanya seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in an-Nawawiyah sangat populer di dunia Islam. Dalam At-Tibyan, beliau menunjukkan kepeduliannya terhadap pembinaan karakter para penghafal dan pembelajar Al-Qur’an agar tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga dalam akhlak.

Latar Belakang Penulisan Kitab

Pada masa Imam an-Nawawi, tradisi halaqah Al-Qur’an sudah berkembang pesat di berbagai kota Islam seperti Damaskus dan Baghdad. Banyak orang berlomba-lomba menghafal Al-Qur’an dan mendalami ilmu qira’at. Namun, di tengah semangat itu, muncul kekhawatiran bahwa sebagian orang mungkin hanya berfokus pada aspek teknis bacaan dan hafalan, tanpa memperhatikan adab serta keikhlasan.

Kitab ini lahir sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut. Imam an-Nawawi menyusun panduan komprehensif tentang bagaimana seharusnya seorang penghafal dan pembaca Al-Qur’an bersikap, baik terhadap dirinya sendiri, terhadap gurunya, terhadap muridnya, maupun terhadap masyarakat.

Sistematika dan Isi Kitab

Secara umum, kitab ini tersusun dalam beberapa bab yang membahas tema-tema berikut:

  1. Keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an
  2. Keutamaan orang yang mengajarkan dan mempelajari Al-Qur’an
  3. Adab pengajar dan pelajar Al-Qur’an
  4. Adab membaca Al-Qur’an
  5. Etika terhadap mushaf
  6. Hukum-hukum yang berkaitan dengan tilawah

Setiap bab didukung oleh dalil dari Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, serta atsar para sahabat dan ulama terdahulu. Gaya penulisan Imam an-Nawawi sistematis, ringkas, namun padat makna. Beliau menyebutkan dalil-dalil dengan sanad atau rujukan yang jelas, menunjukkan integritas ilmiah yang tinggi.

Pokok-Pokok Pemikiran dalam Kitab

  1. Keikhlasan sebagai Fondasi

Imam an-Nawawi menekankan bahwa tujuan utama membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah mencari ridha Allah, bukan popularitas, pujian, atau keuntungan duniawi. Beliau mengingatkan bahaya riya’ (pamer ibadah) dan sum’ah (ingin didengar orang) dalam aktivitas keagamaan.

Dalam konteks modern, pesan ini sangat relevan. Di era media sosial, tilawah dan hafalan sering dipublikasikan secara luas. Tanpa keikhlasan yang kokoh, amalan yang mulia bisa kehilangan nilai spiritualnya.

  1. Adab terhadap Guru dan Murid

Kitab ini menjelaskan bahwa seorang murid Al-Qur’an harus menghormati gurunya, bersikap tawadhu’, dan tidak menyombongkan diri atas hafalannya. Sebaliknya, guru juga wajib bersikap lembut, sabar, dan tidak menjadikan pengajaran sebagai alat mencari keuntungan semata.

Hubungan guru dan murid dalam tradisi Islam bukan sekadar relasi akademik, melainkan relasi spiritual. Guru adalah perantara transmisi ilmu yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, penghormatan terhadap guru menjadi bagian dari penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.

  1. Adab Membaca Al-Qur’an

Imam an-Nawawi memaparkan berbagai adab membaca Al-Qur’an, di antaranya:

* Bersuci sebelum membaca.

* Menghadap kiblat jika memungkinkan.

* Membaca dengan tartil dan suara yang baik.

* Merenungkan makna ayat.

* Menangis atau berusaha menghadirkan rasa khusyuk.

Beliau juga menjelaskan waktu-waktu utama untuk membaca Al-Qur’an, seperti malam hari dan waktu setelah salat Subuh. Hal ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi ibadah yang menuntut kesiapan lahir dan batin.

  1. Interaksi dengan Mushaf

Kitab ini juga mengatur adab terhadap mushaf, seperti tidak meletakkannya di tempat yang rendah atau kotor, tidak menyentuhnya dalam keadaan tidak suci (menurut pendapat mayoritas ulama), serta menjaganya dengan penuh penghormatan.

Adab ini menanamkan rasa takzim (pengagungan) terhadap kalam Allah. Penghormatan fisik terhadap mushaf mencerminkan penghormatan batin terhadap isi dan pesan yang dikandungnya.

  1. Etika Sosial Pembawa Al-Qur’an

Salah satu bagian penting kitab ini adalah penjelasan bahwa seorang penghafal Al-Qur’an harus menjadi teladan dalam akhlak. Ia tidak boleh terlibat dalam perbuatan tercela, tidak pantas bersikap kasar, dan harus menjaga lisannya dari ghibah serta dusta.

Al-Qur’an seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Jika seorang hafiz justru berakhlak buruk, maka itu menjadi kontradiksi antara ilmu dan amal.

Kelebihan Kitab

  1. Komprehensif dan sistematis

Kitab ini mencakup hampir seluruh aspek yang berkaitan dengan interaksi seorang Muslim terhadap Al-Qur’an.

  1. Berdasarkan dalil yang kuat

Setiap pembahasan disertai hadis dan atsar yang memperkuat argumentasi.

  1. Bahasa yang ringkas namun mendalam

Gaya penulisan Imam an-Nawawi tidak bertele-tele, tetapi sarat makna.

  1. Relevan sepanjang zaman

Meskipun ditulis berabad-abad lalu, pesannya tetap aktual.

  1. Menekankan dimensi spiritual

Kitab ini tidak hanya membahas hukum, tetapi juga membangun kesadaran batin.

Kekurangan Kitab

Sebagai karya klasik, terdapat beberapa tantangan bagi pembaca modern:

  1. Bahasa Arab klasik yang padat

Membutuhkan kemampuan bahasa Arab yang memadai atau bantuan syarah (penjelasan).

  1. Beberapa pembahasan fikih bersifat khilafiyah

Perlu pemahaman mazhab untuk melihat konteksnya.

  1. Tidak membahas aspek metodologi hafalan modern

Fokus kitab ini lebih pada adab daripada teknik menghafal.

Namun, kekurangan ini tidak mengurangi nilai substansial kitab, melainkan menunjukkan konteks zamannya.

Relevansi di Era Kontemporer

Di zaman sekarang, fenomena hafiz instan dan kompetisi tilawah sering kali lebih menonjolkan aspek performatif daripada spiritual. Kitab ini mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dilombakan, tetapi untuk diamalkan.

Di lembaga pendidikan Islam, At-Tibyan sangat layak dijadikan bacaan wajib bagi santri tahfiz. Ia bisa menjadi kurikulum pembinaan karakter yang menyertai program hafalan.

Selain itu, kitab ini juga penting bagi orang tua yang ingin mendidik anaknya mencintai Al-Qur’an dengan cara yang benar—yakni dengan menanamkan adab sejak dini.

Nilai Spiritual dan Pendidikan

Kitab ini mengajarkan bahwa menjadi pembawa Al-Qur’an adalah amanah besar. Setiap ayat yang dihafal akan menjadi hujjah (argumen) yang bisa membela atau justru menuntut pembacanya di hari kiamat.

Nilai pendidikan dalam kitab ini mencakup:

* Pendidikan karakter (akhlak)

* Pendidikan spiritual (keikhlasan dan khusyuk)

* Pendidikan sosial (tanggung jawab moral)

* Pendidikan intelektual (pemahaman dalil dan hukum)

Dengan demikian, kitab ini tidak hanya relevan bagi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memperbaiki hubungannya dengan kitab suci.

Refleksi Pribadi atas Kitab

Membaca At-Tibyan memberikan kesadaran bahwa interaksi dengan Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia adalah proses pembentukan jiwa. Kitab ini menampar kesadaran bahwa sering kali kita membaca Al-Qur’an tanpa menghadirkan hati.

Imam an-Nawawi seakan ingin mengatakan bahwa kualitas hubungan kita dengan Al-Qur’an akan menentukan kualitas hidup kita secara keseluruhan. Jika Al-Qur’an hanya berhenti di lisan, maka pengaruhnya pun dangkal. Namun jika ia meresap ke dalam hati dan tercermin dalam akhlak, maka ia akan mengubah pribadi dan masyarakat.

Kesimpulan

At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an adalah karya monumental yang membimbing umat Islam dalam memuliakan Al-Qur’an secara lahir dan batin. Kitab ini menegaskan bahwa pembawa Al-Qur’an bukan sekadar penghafal teks, tetapi penjaga nilai dan akhlak.

Keunggulan kitab ini terletak pada keseimbangan antara aspek hukum, etika, dan spiritualitas. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana membaca Al-Qur’an dengan benar, tetapi juga bagaimana menjadi pribadi yang dibentuk oleh Al-Qur’an.

Bagi para santri, pengajar, hafiz, maupun Muslim awam yang ingin meningkatkan kualitas interaksinya dengan Al-Qur’an, kitab ini adalah rujukan yang sangat berharga. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, At-Tibyan mengajak kita kembali pada inti: membaca dengan hati, menghafal dengan keikhlasan, dan mengamalkan dengan kesungguhan.

Akhirnya, kitab ini mengajarkan satu hal penting: kemuliaan seorang pembawa Al-Qur’an tidak diukur dari banyaknya hafalan, tetapi dari seberapa dalam Al-Qur’an membentuk akhlaknya. Dan di situlah letak keabadian pesan Imam an-Nawawi—bahwa adab adalah ruh dari setiap ilmu.

Wallahu a’lam.

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Anjuran Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Anjuran Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Tuhan Menurut Syekh Ad-Dardiri

Mengenal Tuhan Menurut Syekh Ad-Dardiri

Uyunul Masail: Solusi Atas Problematika Fiqih Kewanitaan

Uyunul Masail: Solusi Atas Problematika Fiqih Kewanitaan

Sholat Dhuha’ Dengan Keutamaannya

Sholat Dhuha’ Dengan Keutamaannya

Safinatun Naja: Kitab Fiqih Ringkas

Safinatun Naja: Kitab Fiqih Ringkas