Suatu hari di puasa senin-kamis, saya membaca sebuah buku tanpa maksud apa-apa selain memang ingin membaca. Namun kali ini berbeda dari biasanya: tidak ada sruput kopi atau sekadar cemilan ringan. Karena memang sedang berpuasa. Dalam kondisi itulah, beberapa halaman dari buku Kearifan Syariat karya Forum Kalimasada (Kajian Ilmiah Tamatan Siswa 2009) Pondok Pesantren Lirboyo memantik kegelisahan intelektual sekaligus spiritual. Salah satu pertanyaan mendasar yang muncul adalah: “Sebenarnya, hikmah apa saja yang didapat dari berpuasa?”
Buku tersebut menjawab bahwa puasa setidaknya mengandung empat hikmah utama, yakni: spiritual, sosial, psikologis, dan medikal. Karena pembahasan masing-masing hikmah cukup panjang dan bernilai, tulisan ini tidak bermaksud menambah, mengurangi, mengkritik, ataupun membandingkan dengan pandangan pribadi. Tulisan ini hanyalah pengantar agar hasil pemikiran para ulama dan peneliti dapat sampai kepada para pembaca.
Setiap ibadah pasti bermakna spiritual. Namun puasa memiliki kekhasan tersendiri. Ia adalah ibadah yang benar-benar berhadap dan terhubung langsung dengan Allah Swt. KH. Husein Muhammad dalam bukunya Islam menyebutkan:
“Puasa sepenuhnya merupakan momen spiritualitas dan cara pengabdian kepada Tuhan paling eksklusif.”
Hal ini ditegaskan oleh hadis qudsi:
الصوم لي وأنا أجزى به
“Puasa adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Eksklusivitas puasa terletak pada kenyataan bahwa ia tidak dapat dinilai secara lahiriah. Hanya pelakunya dan Allah yang mengetahui kejujurannya.
Dalam buku Kearifan Syariat, hikmah spiritual puasa dijelaskan dalam beberapa poin berikut.
Puasa melatih manusia menahan kebutuhan paling esensial: makan, minum, dan hubungan seksual. Penahanan ini dilakukan bukan karena ketiadaan, tetapi karena ketaatan. Dari sinilah terbentuk latihan menghindari yang haram dan menguatkan komitmen kepada perintah Allah Swt. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183)
Puasa menumbuhkan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi. Ketika seseorang sendirian dan memiliki kesempatan melanggar puasa tanpa diketahui manusia, namun tetap menahan diri, di situlah nilai moral puasa bekerja. Jika sikap ini berlanjut di luar Ramadhan, maka akan tercipta tatanan sosial yang tertib dan bermartabat.
Puasa mengajarkan manusia menghargai nikmat. Seseorang baru menyadari nilai sesuatu ketika ia kehilangan. Puasa juga merupakan amanah yang tidak dapat dinilai secara lahiriah. Nabi Saw. bersabda:
إن الصوم أمانة فليحفظ أحدكم أمانته
“Sesungguhnya puasa adalah amanah, maka hendaknya setiap kalian menjaga amanahnya.”
Puasa membatasi dominasi unsur hewani (makan, minum, dan seks) dan menguatkan unsur ruhani. Jika unsur hewani dibiarkan mendominasi, manusia akan jatuh pada derajat kebinatangan. Padahal Allah telah menetapkan manusia sebagai khalifah. Firman Allah:
إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Puasa adalah latihan kesabaran tingkat tinggi. Ia menjawab akar berbagai penyimpangan: pencurian, pembunuhan, dan zina, yang pada dasarnya bersumber dari kegagalan menahan diri.
Jika puasa tidak menjadikan seseorang bertakwa dan sadar diri, maka ada yang salah dengan puasa dan dirinya.
Puasa memiliki dampak sosial yang sangat kuat. Dengan menahan lapar dan dahaga, seseorang merasakan penderitaan orang-orang yang hidup dalam kekurangan sepanjang tahun. Nabi Saw. bersabda:
ليس المؤمن الذي يشبع وجاره جائع إلى جنبه
“Bukan mukmin sejati orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”
(HR. Al-Baihaqi)
Puasa menumbuhkan empati, solidaritas, dan kepedulian sosial yang nyata. Yusuf a.s. pernah ditanya mengapa ia tetap lapar padahal kaya. Ia menjawab:
“Aku takut jika aku kenyang, aku akan lupa kepada orang yang lapar.”
Kisah Aisyah r.a. yang menginfakkan seratus ribu dirham dalam keadaan berpuasa adalah gambaran hati yang tercerahkan oleh puasa. Dengan puasa, seseorang menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat: lapar bersama, berbuka bersama, dan beribadah bersama.
Jika puasa tidak menjadikan seseorang peka dan peduli terhadap sesama, maka ada yang keliru dalam puasa tersebut.
Setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas melahirkan ketenangan. Puasa, sebagai ibadah dengan nilai spiritual tinggi, memberi dampak besar bagi jiwa. Psikologis berkaitan dengan jiwa, dan ibadah adalah terapi jiwa.
Penelitian Daniel Goleman tentang kecerdasan emosional melalui eksperimen marshmallow menunjukkan bahwa kemampuan menahan diri berkorelasi kuat dengan ketahanan mental, kecerdasan, dan kesuksesan hidup. Anak-anak yang mampu menunda kepuasan memiliki nilai akademik lebih tinggi dan kestabilan emosi yang lebih baik di masa dewasa.
Puasa adalah arena latihan pengendalian diri paling sempurna. Dalam makan saja, yang merupakan kebutuhan primer, umat Islam hidup dalam aturan yang ketat, terlebih di bulan Ramadhan. Dengan demikian, umat Islam secara kolektif sedang membangun kecerdasan emosional.
Dr. Musthafa As-Siba’i berkata:
“Adakah di dunia ini aturan bersama yang membuat manusia sama-sama lapar dan sama-sama kenyang seperti puasa Ramadhan?”
Jika puasa tidak melahirkan ketenangan dan kendali diri, maka yang bermasalah bukan puasanya, melainkan pelakunya.
Tiada kesia-siaan dalam perintah Allah. Puasa memiliki hikmah kesehatan yang mendalam, terutama bagi organ-organ dalam.
Puasa memberi istirahat bagi sistem pencernaan, yang selama ini bekerja hampir tanpa jeda. Dengan istirahat ini, penyerapan gizi justru menjadi lebih optimal.
Makvadon, ahli kesehatan Amerika, menyatakan bahwa racun-racun dalam tubuh akan terurai dan keluar saat berpuasa. Penelitian di Osaka (1930) menunjukkan peningkatan sel darah putih setelah hari ketujuh puasa, yang berarti peningkatan kekebalan tubuh.
Puasa juga terbukti mencegah penyakit, membantu terapi penyembuhan, menurunkan kadar gula darah, memperbaiki kualitas hormon seksual.
Nabi Saw. bersabda:
يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج… ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء
“Wahai para pemuda, barang siapa mampu menikah maka menikahlah… dan barang siapa belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah pengekang baginya.”
(HR. Al-Bukhari No. 5066)
Puasa juga mencerdaskan otak. Pepatah Arab mengatakan:
البطنة تذهب بالفطنة
“Kekenyangan menghilangkan kecerdasan.”
Jika puasa justru menjadikan seseorang sakit dan lemah, maka yang perlu dievaluasi adalah cara dan makna puasanya.
Puasa adalah ibadah multidimensi. Ia membentuk manusia secara spiritual, sosial, psikologis, dan fisik sekaligus. Jika puasa tidak menghadirkan ketakwaan, kepedulian sosial, ketenangan jiwa, dan kesehatan, maka masalahnya bukan pada puasa, melainkan pada kesadaran dalam menjalankannya.
Semoga bermanfaat.
Wallahu a‘lam.