Di Roma sekitar 1748 tahun yang lalu, sejarah mengenal dan mencatat dua buah nama legendaris, antara Santo Valentine, Sang Pendeta; dan Claudius II, Sang Kaisar.
Secara yang bersamaan, Claudius II ingin menjadikan dirinya sebagai kaisar tangguh lagi gagah yang bisa membawa Roma memenangkan setiap perang berdarah yang ada.
Namun di satu sisi, bala tentaranya sangat lambat dan sulit mengimbangi ambisinya. Usut punya usut, faktor terbesar itu disebabkan oleh pasangan dari setiap prajurit, baik kekasih atau istri, yang menghambat semangat dan daya juang untuk pergi ke medan perang.
Untuk mengatasi dan mewujudkan impiannya, ultimatum besar diputuskan oleh Sang Kaisar, bahwa mulai saat itu ia melarang semua bentuk pernikahan serta pertunangan yang ada pada Roma.
Mulai saat itu juga, di luar kuasa tangguh lagi angkuh, di hati rakyatnya, Claudius II disebut sebagai kaisar yang kejam lagi keji.
Namun jauh berita itu beredar, sampai pula pada Sang Pendeta, menembus relung hati dan jiwa kemanusiawiannya; menumbuhkan belas cinta kasih yang tidak terbendung. Tentu ia tidak setuju dengan Sang Kaisar. Baginya, cinta adalah dorongan dan kebutuhan yang sentral dan esensial.
Hingga, ia diam-diam memberanikan diri untuk menikahkan sepasang pangantin muda.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sang Kaisar tetap mengetahui hal itu. Hingga, Sang Pendeta pun ditangkap, ditahan, dan dihukum dengan dipukul dan dipancung: tepat di tanggal 14 Februari.
Sampai hari ini, seluruh dunia menghormati jasanya dengan perayaan Hari Valentine.
Tapi, di luar segala hukum dan penyikapan kita atas momen perayaan hari valentine, umat Islam nyatanya pun punya momen hari kasih sayang: apakah kita tau?
Bukan 14 Februari, tapi tepat di 20 Ramadhan 8 H atau 1 Januari 630 M, umat Islam mencatat sebuah momen sejarah yang dinamai dengan: Fathu Makkah.
Sejak hari di mana umat Islam terusir ke Madinah hingga 8 tahun lamanya, tepat di hari itu, Rasulullah Saw bersama para sahabat yang lain, memimpin 10.000 pasukan yang datang merengsek masuk dari 4 penjuru arah dengan ultimate goal: pembebasan Kota Makkah.
Makkah ditaklukkan nyaris tanpa pertumpahan darah. Rasulullah Saw membersihkan tak kurang 360 berhala yang berserakan di dalam maupun luar Ka’bah, serta menghapus gambar-gambar di dalamnya. Kemudian Nabi memasuki Kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah Swt:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS Al-Fath ayat 1)
Pesan-pesan pun disampaikan:
“Barang siapa yang memasuki masjid akan aman. barang siapa yang melindungi di rumah abu sufyan maka ia akan aman, dan barangsiapa yang menutup pintu rumahnya maka ia akan aman juga.”
Meredanya pembebasan, para pasukan terlihat berkumpul dan saling berbincang. Hingga salah seorang sahabat, Sa’ad bin Abi ‘Ubadah, berkata:
اليوم يوم الملحمة اليوم تستحل الكعبة
“Hari ini adalah hari pembalasan, dan hari ini Ka’bah dihalalkan (untuk direbut dari kekuasaan kaum Quraisy).”
Tidak lama dari ucapan itu, Nabi bertepatan lewat di hadapan mereka. Beliau berkata:
كذب سعد ,اليوم يوم المرحمة , اليوم تكسى الكعبة , اليوم يعز الله قريشا
“Sa’ad berdusta. Hari ini adalah hari pengampunan umum (kasih sayang), hari ini adalah hari penghormatan ka’bah, dan hari ini Allah akan memuliakan kaum Quraisy.”
Lagipula, tidak perlu berlarut membenamkan diri dan jiwa manusiawi kita dalam belenggu tanggal-tanggal.
Setiap hari adalah hari kasih sayang.
Kita bisa saling menyayangi setiap hari.
Selamat Ramadhan!